GUWO MP3 Clips

20 Agustus 2008

Objek-objek Wisata Di Maninjau












Oleh: M. Reza

Jika anda berkunjung ke Maninjau maka anda dapat mengunjungi beragam objek wisata. Objek wisata di Maninjau pada dasarnya terbagi dalam tiga jenis yaitu objek Wisata Alam, objek Wisata Sejarah dan Budaya, dan objek Wisata Minat Khusus. Di antara tiga jenis objek wisata tersebut, objek wisata alam merupakan objek wisata yang paling dominan dikunjungi oleh para wisatawan. Namun demikian, keberadaan objek wisata sejarah dan budaya serta objek wisata minat khusus juga sangat menunjang perkembangan pariwisata di Maninjau.

A. Objek Wisata Alam
Adapun bentuk objek wisata alam adalah berupa keindahan alam yang sangat alami, dengan adanya perbukitan dan pegunungan, air terjun, pemandian, dan panorama danau. Objek wisata alam yang terdapat di Maninjau terdiri dari:

a. Taman Wisata Muko-Muko
Muko-Muko adalah kawasan yang berlokasi di tepian Danau Maninjau berdekatan dengan PLTA. Tempat ini menyajikan pesona tersendiri karena didukung oleh beberapa fasilitas seperti taman rekreasi, tempat ibadah, arena bermain anak dan Pulau Legenda. Taman wisata muko-muko muncul dan berkembang sebagai dampak dari pembangunan PLTA Maninjau.

b. Aia Tigo Raso
Aia Tigo Raso atau air tiga rasa adalah salah satu objek wisata yang unik yang ada di Kabupeten Agam. Disebut unik karena dalam satu kolam terdapat tiga rasa air, yaitu manis, asam, dan pahit. Keunikan air tersebut menyebabkan banyak wisatawan yang mendatangi objek wisata ini. Air ini juga dipercayai dapat menyembuhkan penyakit kulit dan dapat membuat orang awet muda.

c. Agrowisata Kelok 44
Kelok 44 merupakan wisata alam yang menarik untuk dinikmati karena selama menempuh jalan yang berkelok-kelok tersebut wisatawan dapat menikmati pemandangan Danau Maninjau dari tempat ketinggian. Selain itu, di kelok 44 juga terdapat kera-kera jinak yang berkeliaran di sepanjang jalan. Kelok 44 dimulai di kelok 1 dari Danau Maninjau menuju Bukittinggi.

d. Air Terjun Gadih Ranti
Air terjun Gadih Ranti terletak 1,6 Km dari jalan raya Lubuk Basung-Maninjau dan berdekatan dengan bendungan irigasi Batang Antokan. Secara rinci akses menuju lokasi air terjun ini melalui jalan Lubuk Sao-Arikia. Sepanjang 600 meter menuju lokasi masih berupa jalan setapak sehingga memberikan kesan alami kepada para wisatawan yang mengunjunginya. Saat ini telah terdapat gazebo di lokasi wisata air terjun yang terdiri dari beberapa tingkat ini.

e. Pemandian Gadih Ranti
Pemandian Gadih Ranti berada di atas Air Terjun Gadih Ranti. Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat setempat menyatakan bahwa pada masa dahulunya ada seorang gadis yang bernama Gadih Ranti yang selalu menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pemandiannya. Gadih Ranti merupakan seorang gadis yang memiliki perawakan rupawan dan berambut panjang. Jika dilihat sekilas, pemandian ini mengandung misteri tersendiri karena kolam pemandian tersebut terbuat dari batu alam yang besar.

Seakan-akan batu alam yang besar tersebut sengaja dipahat menjadi wadah untuk menampung air untuk mandi dan berendam. Namun demikian, objek wisata ini tetap menjadi daya tarik karena airnya yang bersih ditunjang oleh keberadaannya dilokasi yang terlindung dan berhawa sejuk.

f. Danau Maninjau
Danau Maninjau terletak kabupaten Agam sekitar 140 km utara Padang dan 38 km barat Bukittinggi. Danau yang muncul akibat letusan Gunung Merapi ini memiliki kedalaman mencapai 495 meter dan terletak di ketinggian 461.5 meter dpl. Luas danau yang mencapai 99.5 km persegi telah mencatat danau ini sebagai danau terluas ke-2 di Sumatra Barat setelah Danau Singkarak dan danau terluas ke-11 di Indonesia.
Orang Minangkabau, khususnya orang Maninjau mempercayai legenda di balik terbentuknya danau, yaitu “Bujang Sembilan”, seperti yang telah dideskripsikan pada halaman sebelumnya. Maninjau banyak melahirkan tokoh antara lain Buya Hamka dan Rangkayo Rasuna Said (1910-1965). Mendengar nama Rasuna Said, anda pasti ingat nama jalan HR. Rasuna Said yang terdapat di kuningan. Ternyata, nama tersebut memang mengarah kepada orang yang sama karena HR adalah kepanjangan dari Hajjah Rangkayo.

Danau Maninjau merupakan objek wisata yang paling dominan di Maninjau. Danau ini memiliki panjang 16 km dan lebar 8 km. Danau Maninjau dikelilingi oleh perbukitan sehingga jika diperhatikan secara saksama maka akan terlihat seolah-olah danau tersebut berada dalam sebuah lingkaran. Hal ini seakan-akan membenarkan cerita yang terdapat dalam kisah Bujang Sambilan bahwa Danau Maninjau berasal dari kawah gunung berapi yang bernama Gunung Tinjau. Danau Maninjau memiliki keindahan yang khas. Keindahan danau ini tidak saja dapat dilihat dari dekat tetapi juga bisa disaksikan dari ketinggian Puncak Lawang, Ambun Pagi, dan Kelok 44.

g. Aia Angek Gasang
Aia Angek Gasang terletak di Jorong Gasang Kenagarian Maninjau. Objek wisata ini juga merupakan salah satu objek wisata yang unik karena jarak antara kolam pemandian air hangat ini dengan Danau Maninjau tidak begitu jauh tetapi airnya tetap hangat. Tingkat kehangatan Aia Angek Gasang tidaklah sehangat air yang ada di pemandian air hangat Solok, juga tidak lah sepanas air hangat di pemandian air hangat Pariangan tetapi mata air ini tetap memancarkan air yang kehangatannya sangat cocok untuk berendam.

h. Taman Wisata Linggai
Taman Wisata Linggai pernah dikelola dengan baik, yaitu dengan membangun beberapa gazebo, sejenis dangau untuk beristirahat bagi para wisatawan. Namun demikian, perawatan yang sangat kurang mengakibatkan bangunan-bangunan yang sudah ada tersebut mengalami kerusakan. Taman Wisata Linggai merupakan taman wisata yang dikembangkan di salah satu teluk Danau Maninjau. Lokasinya sebenarnya sangat bagus untuk dikembangkan sebagai tempat taman rekreasi air karena tepian danau di daerah ini cukup landai dengan teluknya yang indah. Saat ini kondisi objek wisata ini kurang terawat dan teluk tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat pembudidayaan ikan air tawar dengan sistem jala terapung atau karamba.

B. Objek Wisata Sejarah dan Budaya
Selain menikmati objek wisata alam anda juga dapat mengunjungi objek wisata sejarah dan budaya meliputi wujud benda-benda bukti sejarah yang tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud). Objek wisata sejarah dan budaya yang terdapat di Maninjau terdiri dari:

a. Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA
Buya HAMKA lahir di Sungai Batang. Rumah tempat kelahirannya saat ini difungsikan sebagai Museum HAMKA. Museum HAMKA memiliki koleksi berbagai buku karya Buya HAMKA, foto-foto, beberapa tongkat dan baju yang pernah digunakan Buya HAMKA semasa hidupnya. Penggunaan Museum HAMKA diresmikan pada tanggal 11 November 2001. Tujuan dari pendirian Museum tersebut adalah agar HAMKA tetap dikenal dan diteladani oleh generasi muda, khususnya generasi muda di Maninjau. Museum HAMKA merupakan salah satu tempat yang cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

b. Makam Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul)
Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Safar 1296 Hijriah yang bertepatan dengan 9 Februari 1879 Masehi. Beliau adalah ayah dari Buya HAMKA. Wafat di Jakarta pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1364 Hijriah atau 3 Juni 1943 Masehi. Pada mulanya beliau dimakamkan di Jakarta namun kemudian dipindahkan ke Maninjau. Disisi makamnya dimakamkan adiknya yang bernama H. Yusuf Amrullah. Yusuf Amrullah lahir pada tanggal 25 April 1889 dan wafat pada tanggal 19 Oktober 1972. Pada saat ini komplek makam dilengkapi dengan perpustakaan yang diberi nama Perpustakaan Inyiak Rasul.

c. Perpustakaan Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul)
Perpustakaan Inyiak Rasul awalnya adalah rumah tempat Inyiak Rasul lahir dan dibesarkan. Rumah ini juga merupakan tempat Inyiak Rasul melahirkan beberapa tulisan. Perpustakaan memiliki dua buah lemari yang berisi berbagai macam hasil karya Inyiak Rasul. Di depan perpustakaan terdapat komplek makam Inyiak Rasul.

d. Surau Buya HAMKA
Surau ini dibangun tahun 1928 oleh warga Kampung Tanah Sirah Kenagarian Sungai Batang dengan ukuran 6x8 meter. Dibangun oleh masyarakat untuk Buya HAMKA yaitu pada saat beliau pulang dari Mekkah. Pada waktu itu HAMKA masih berumur 18 tahun. Tujuan dibangunnya surau tersebut adalah untuk tempat mengajar mengaji Al-Qur’an anak-anak yang ada di nagari-nagari sekitar surau. Saat ini surau Buya HAMKA masih dimanfaatkan sebagai tempat mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak.

e. Atraksi Pagelaran Kesenian Tradisional
Di Maninjau terdapat banyak sanggar seni tradisional. Tiap-tiap nagari memiliki paling tidak satu buah sanggar seni tradisional. Sanggar seni tradisional yang terdapat di Maninjau berjumlah 71 buah sanggar seni. Kegiatan yang dilakukan di sanggar seni tradisional adalah mengajarkan dan mengembangkan seni tradisional seperti Randai, silat seni dan silat bela diri, musik dan tari-tarian tradisional, serta pengajaran pemahaman adat yang meliputi pasambahan, dan petatah petitih.


f. Upacara Perhelatan Perkawinan
Upacara pehelatan perkawinan di Maninjau menjadi sangat menarik karena masih kentalnya pengaruh adat dan budaya. Budaya baarak merupakan hal yang sangat menarik perhatian, tidak saja menarik perhatian para wisatawan tetapi juga masyarakat setempat.

Pada acara baarak, kedua penganten diarak keliling nagari dengan diiringi bunyi-bunyian yang merupakan alat kesenian anak nagari seperti: Tambua, Talempong, Gadabiak, dan Pupuik Batang Padi atau Tansa. Selain itu, ketika kedua penganten hampir sampai di rumah anak daro (penganten perempuan) maka akan disambut dengan Tari Galombang.


C. Objek Wisata Minat Khusus
Objek Wisata Minat Khusus adalah objek wisata yang dominan dikunjungi oleh mereka yang memiliki hobi bertualang dan suka akan tantangan. Adapun objek wisata minat khusus yang ada di Maninjau antara lain: Arung Jeram dan Paralayang.

a. Arung Jeram
Arung Jeram merupakan objek Wisata Minat Khusus yang banyak digemari oleh wisatawan mancanegara. Kegiatan Arung Jeram dilakukan di Batang Antokan karena arus Batang Antokan cukup deras sehingga sangat cocok untuk melakukan kegiatan Arung Jeram. Hanya saja dalam beberapa tahun belakangan ini kegiatan arung jeram sudah sangat jarang sekali diadakan. Melihat kondisi ini muncul dua anggapan mendasar. Anggapan pertama mungkin saja kegiatan arung jeram tidak dilaksanakan karena memang tidak ada peminat untuk melaksanakan kegiatan ini. Anggapan kedua mungkin kegiatan tersebut tidak dilaksanakan karena memang tidak adanya sarana dan prasarana untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kalau memang demikian maka sangat disayangkan potensi wisata yang cukup unik tersebut terabaikan begitu saja. Padahal bidang pariwisata merupakan salah satu lahan yang dapat memompa pendapatan daerah.

b. Paralayang
Geliat dunia paralayang Indonesia boleh dibilang tak bisa dilepaskan dari kiprah para pendaki gunung. Keinginan turun dengan cepat setelah puas melahap sejuta tanjakan dalam pendakian ternyata melahirkan bentuk petualangan lain. Tahun-tahun awal perkembangan paralayang di Indonesia memang didominasi oleh pendaki gunung. Itu sebabnya, pada awal kelahirannya di Indonesia, paralayang populer dengan sebutan terjun gunung. Pencetus paralayang di Indonesia adalah Gendon Subandon dan Dudi Arief Wahyudi dengan mendirikan kelompok terjun gunung di Yogyakarta pada Januari 1990.

Ajang Paralayang itu sudah tiga kali diselenggarakan oleh Pemda Kabupaten Agam sejak 2001. Acara tersebut menyatu dengan Festival Rakyat dan diselenggarakan selama tujuh hari berturut-turut. Jadi, setiap hari selama seminggu di Puncak Lawang dan di tepi Danau Maninjau berlangsung kegiatan pariwisata. Kegiatan Paralayang berawal dengan terjun dari Puncak Lawang dan akan mendarat di Maninjau. (Guwo: 02.05.2008)

KEMISKINAN ANTARA MASYARAKAT DAN PEMERINTAH





Oleh: Ana Fatda)

Makan ngak makan asal ngumpul 2x
Makan ngak makan 2x
Asal ngumpul


Bait diatas sangat familiar ditelinga kita, terlebih lagi slogan tersebut sangat lekat pada salah satu suku bangsa yang ada di negara kita. Bait tersebut mengisyaratkan bahwasannya kebersamaan lebih utama dari pada hanya untuk memikirkan soal makan atau hal-hal yang lain. Kebersamaan atau kekeluargaan merupakan segala-galanya, tidak ada yang berada lebih tinggi dari hal tersebut.

Lalu jika kita menelaah terhadap keadaan saat ini apakah hal tersebut masih berlaku? Pasti nya ada dua jawaban ya atau tidak. Tidak, berfikir secara logis saja mana mungkin seseorang saat ini rela mengorbankan dirinya tanpa ada sesuatu yang diharapkan, apa lagi jika itu terkait akan hal-hal yang bersifat kelangsungan hidup mereka. Ini bukan zaman dahulu kawan! Dimana segala sumber kebutuhan masih dapt diperoleh dengan mudah dan murah, sekarang sudah era individualis, yang berkuasa yang menang.

Ya,mungkin ini merupakan jawaban keterpaksaan yang akan terdengar. Mengapa demikian? Bayangkan saja kebutuhan untuk hidup saat ini biayanya sudah sangat tinggi. Sebentar-sebentar sudah terhembus kabar harga barang-barang terutama kebutuhan pokok melonjak naik. Membuat masyarakat harus berusaha keras untuk memutar otak bagaimana cara agar dapur tetap mengepul. Tetapi bagaimana akan memutar otak, jika energi yang dibutuhkan sebagai asupan untuk hal tersebut masih melayang-layang.

Kehidupan di negara ini semakin hari semakin susah, semakin hari semakin mengalami kemunduran. Kalangan bawah menjadi semakin miskin, sementara kalangan atas menjadi semakin kaya. Rakyat menjerit kelaparan, dewan menjerit dengan perdebatan yang berujung bentrokan.

Kesusahan rakyat telah menjadi sebuah “screen saver” bangsa ini. Setiap bulannya harga kebutuhan ada saja yang naik, sementara upah atau gaji masyarakat tidak naik Jika ada kenaikan upah atau gaji (baru sekedar pengumuman), harga-harga telah terlebih dahulu naik sama saja “stagnasi”, para petani pun bernasib yang sama. Ambil saja contohnya rencana kenaikan BBM, belum naik tetapi harga bahan kebutuhan pokok sudah melonjak tajam. Jika dibandingkan dengan kenaikan harga yang terjadi, pendapatan masyarakat sangat kecil atau tidak berbanding baik atau sangat kecil dengan harga-harga yang ada di pasaran.

Patutkah pemerintah disalahkan? Disatu sisi pemerintah saat ini hanya menjalanakan tugas dan kewajibannya, kenaikan harga merupakan suatu tuntutan yang tak dapat dielakkan. Jika tidak melakukan hal ini maka pendapatan negara dan belanja negara akan mengalami devisit, sedangkan biaya-biaya seperti gaji para pegawai, upah buruh, biaya pembangunan untuk daerah-daerah, pembayaran hutang luar negeri dan lain sebagainya harus ada dan mencukupi. Jika tidak dari hal ini apalagi yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Disatu sisi lagi jika kita menelaah kebelakang, mungkin kita bisa melihat akar permasalahan ini. Pemerintahan yang otoriter dan adanya monopoli dalam perdagangan yang dilakukan menjadikan kondisi kita seperti sekarang ini. Tidak adanya keterbukaan dan korupsi yang merajalela, menimbulkan hutang yang banyak dan itu semua harus ditanggung oleh rakyat dan pemerintah saat ini. Kebiasaan yang telah menjadi akar di dalam tubuh pemerintahan dahulu telah turun kepada pemerintah selanjutnya. Hal ini lah yang menjadikan masyarakat semakin susah, jatah raskin yang diturunkan untuk masyarakat miskin berangsur-angsur “disunat”, hingga sampai ketangan rakyat tidak sesuai dengan dana yang telah ditentukan, bahkan sering kali terjadi kecurangan orang yang berkecukupan malah mendapatkan jatah tersebut sementara rakyat miskin hanya bisa gigit jari dan membayangkan jatah mereka yang telah terbang kepada orang yang tidak tepat.

Jikalau pemerintah mau lebih tegas. menindak bahkan sangat tegas untuk menindak para pelaku kecurangan ini, bukan hanya dengan gertakan atau hukuman yang sebentar saja seperti yang terjadi pada saat ini, koruptor dalam penanganan kasusnya hanya terjadi tarik ulur sehingga mereka menganggap hal ini sudah biasa toh, mereka akan dibebaskan juga tanpa ada tindak hukum yang tegas. Keinginan pemerintah dan masyarakat akan negara yang adil, makmur, dan sejahtera bisa terwujud dan bukan merupakan suatu impian belaka.

18 Agustus 2008

Menilik Roh Gerakan Mahasiswa


Menilik Roh Gerakan Mahasiswa


Oleh: Melin

JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, saya sengaja mengawali tulisan ini degan meminjam istilah yang pernah diucapkan oleh Soekarno, mantan orang nomor satu di Indonesia (RI 1) sekaligus penguasa Orde Lama. Dalam bidang apa pun membaca dan mempelajari sejarah akan sangat membantu dalam mencari dan menentukan arah dan pedoman tindakan pada masa kini. Demikian juga halnya ketika menentukan arah gerakan mahasiswa pada saat ini.

Dalam perjalanan panjang sejarah pergerakan Indonesia, mahasiswa telah memperlihatkan andil dan kontrobusi nyatanya dalam pergerakan. Lahirnya pergerakan nasional Indonesia merupakan bukti nyata sumbangsih mahasiswa yang notabenenya adalah kaum terpelajar yang juga menjadi kaum elit menengah. Memang, pada awalnya gerakan yang muncul adalah gerakan yang lebih bersifat kedaerahan atau kelompok, dalam kesempatan ini saya istilahkan dengan gerakan individual atau gerakan kecil. Sebagaimana lazimnya gerakan kecil tentunya daya dobrak yang dihasilkan akan sesuai dengan pemicu gerakan itu sendiri. Namun demikian, walaupun daya dobrak dari gerakan kecil tersebut terlihat lemah, tetapi perannya tidak dapat diabaikan begitu saja. Gerakan-gerakan kecil itu adalah akar dari gerakan besar yang muncul dikemudian hari. Gerakan kecil itulah yang menjadi biang menyebarnya ide dan gagasan untuk mewujudkan sebuah gerakan yang pada masanya dikenal dengan gerakan nasional.

Hal lain yang sangat terkait dengan persoalan pergerakan nasional adalah pendidikan. Mengapa saya katakan demikian? Alasannya sederhana saja, yaitu karena pergerakan-pergerakan yang muncul pada tahap awal adalah buah dari pohon yang bernama pendidikan. Jadi tidak salah jika pendidikan diistilahkan dengan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Rahim pendidikan melahirkan anak yang bernama kaum terpelajar. Mereka ini memiliki fikiran yang kritis sehingga menjadi ujung lidah dari masyarakat. Secara perlahan mereka menjadi sebuah kekuatan yang mampu melancarkan aksi kolektif. Aksi kolektif itu, disadari ataupun tidak, telah membentuk identitas kolektif dan kemudian menentukan orientasi bersama. Puncaknya adalah lahirnya ikrar yang mereka wujudkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Saat itu, segala bentuk perbedaan tertepiskan. Tembok-tembok sosial pun seakan meleleh begitu saja. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Saat ini kita tentu bisa melihat sendiri pola gerakan mahasiswa. Ego kelompok dan golongan lebih mencuat daripada tujuan utama dari pergerakan. Makanya tidak aneh jika ditemui adanya bentrok antar mahasiswa, dan tidak adanya respon dari kawan-kawan mahasiswa yang lain terhadap pergerakan. Hanya satu ungkapan yang bisa saya tuliskan disini, bahwa pergerakan mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini adalah pergerakan tanpa roh.
*****
Padang, 13.08.’08

Ditengah Kemelut Kebudayaan Islam Ditantang


Judul Buku : Ditengah Kemelut Kebudayaan Islam Ditantang
Pengarang : Maryam Jameelah
Penterjemah : A.H. Fauzan & Edy Suryanto
Penerbit : Shalahuddin Press
Jumlah Halaman : 118 hlm


Resensi Oon Guwo


Pemikiran Islam dalam menghadapi budaya materialistik dan sekuler ala barat dapat ditemukan dalam buku ini. Islam memberikan pilihan kepada manusia untuk melepaskan diri dari belenggu batin dan penjara kehidupan yang berasal dari sisi negatif kebudayaan barat. Budaya barat dengan nyata telah menjajah budaya ketimuran yang dekat dengan Islam. Melalui tawaran kesenangan, kenikmatan, dan kemewahan sesaat budaya barat secara perlahan menggeser budaya timur. Bahkan sedikit demi sedikit budaya barat mempengaruhi pola pikir manusia, dalam hal ini masyarakat Islam, dengan pemikiran sekuler. Akibatnya yang muncul dalam umat Islam adalah insan-insan penganut budaya materialistik, sehingga nilai-nilai Islam mulai ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Dengan keadaan seperti itu peradaban Islam akan mengalami kemunduran, padahal iman bukanlah sekedar rangkaian ritual saja melainkan aspek yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim.

Dampak dari kemajuan teknologi, yang sangat disanjung dalam budaya barat, terhadap alam semesta menjadi pembahasan yang menarik dalam buku ini. Nyatanya, perkembanganteknologi yang berbasiskan barat telah mengakibatkan berbagai kerusakan alam dan lingkungan hidup, kerusakan moral manusia, dan menghilangkan tujuan hakiki penciptaan manusia yang sebenarnya memiliki identitas sebagai makhluk. Dengan berbagai dalih, tayangan teknologi televisi didominasi oleh tayangan kehidupan ala barat yang memperlihatkan kesenangan, kenikmatan, dan kemewahan, tetapi tanpa disadari telah menjadi penjara hidup manusia.

Maryam menjelaskan bahwa dalam pemikiran barat, alam adalah musuh yang harus ditaklukkan. Memang harus diakui bahwa peradaban barat tidak tertandingi oleh peradaban manapun dalam taraf perusak yang luar biasa terhadap alam. Hal itu sangat berbeda dengan pandangan Islam yang tidak memandang alam sebagai sesuatu yang profan. Alam adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dan dikelola secara bijaksana, karena manusia adalah khalifah bagi bumi. Kerusakan- kerusakan alam terjadi karena barat sangat memuja sains, dan hal itu yang tidak sesuai dengan pandangan Islam. Islam bukannya menolak pekembangan sains, tetapi Islam sengaja memberi batasan dengan tujuan agar manusia tidak menjadi budak dari temuan mereka sendiri. Akibatnya, karena pandangan itu, Islam dituduh menjadi penyebab lambatnya perkembangan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini banyak mengandung unsur perbandingan. Bahasa yang sederhana dicampur bahasa yang agak tinggi sehingga mungkin saja akan sedikit menyulitkan masyarakat umum untuk memahaminya. Sepertinya buku ini memang ditujukan sebagai bahan bacaan bagi kaum terpelajar dan para pengambil kebijakan.
Secara umum buku ini menawarkan pilihan kehidupan bagi pembacanya. Dua kutub yang berbeda, Islam dan Barat, sama-sama memiliki pemikiran terhadap kebudayaan manusia. Barat dengan tawaran budaya materialistik dan sekuler, sementara Islam dengan kaidah jiwa tauhid dan berupaya menjaga manusia tetap pada identitasnya sebagai makhluk yang berjalan dan berkembang untuk mencapai tujuan hakiki penciptaannya.

*****

IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL; Suatu Wawasan Islam


Judul Buku : IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL; Suatu Wawasan Islam
Pengarang : Ali Syariati
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit : 1989
Jumlah Halaman : 185 hlm


Resensi Donk Guwo


Ali Syariati adalah seorang pemikir muslim kontemporer yang terkemuka. Hal tersebut diungkapkan oleh Jalaluddin Rahmad dalam kata pengantarnya untuk buku ini. Dalam buku ini Ali syaruati menyerukan bahwa jangan pernh merasa puas dalam menimba ilmu. Ilmu haruslah dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga perjuangan para rasul dapat dilanjutkan. Hidupkan kesadaran diri masyarakat Islam untuk merubah dunia dengan bimbingan Islam.

Ali juga memaparkan bahwa bukan orang-orang timur yang belajar dari barat, tetapi orang-orang baratlah yang pada awalnya berguru ke timur karena timur memiliki pemahaman keyakinan dasar dan proses sejarah yang membentuk mereka. Sesuai dengan judul bukunya, Ideologi Kaum Intelektual, Ali menegaskan kembali peran agama sebagai ideologi, dalam pengertian sebagai keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respon pada kebutuhan dan masalah masyarakat yang terjadi. Agama sebagai ideologi bukanlah agama yang mempertahankan dan melegitimasikan status quo, tetapi agama yang memberikan arah kepada bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Buku ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing bagian berisi pandangan dan pemikiran Ali Syariati mengenai tata cara kehidupan bermasyarakat dan menerapkan ideologi agama, dalam hal ini Islam, sebagai sebuah tatanan hidup dalam masyarakat. Pemikiran-pemikiran Ali tersebut berdasarkan pada Al-Qur’an yang dikaitkan dengan realita kehidupan bangsa dengan tidak pula mengabaikan pemikiran, konsep, dan teori dari tokoh-tokoh barat.

Pada bagian pertama, dengan sub judul Kebudayaan dan Ideologi, Ali menjabarkan bagaimana sebuah kebudayaan berkembang menjadi sebuah peradaban. Kebudayaan dan peradaban dibangun oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Zorroaster, Budha, Conficius, Lao Tse, dan Nabi Muhammad. Satu-satunya fungsi mereka adalah menciptakan masyarakat baru dan gerakan-gerakan baru baik kepada para ilmuwan, seniman, filsuf, dan lainnya yang pada akhirnya memunculkan peradaban baru.

Kebudayaan dan peradaban barat telah mengambil bentuk-bentuk baru. Hanya saja, yang sangat disayangkan oleh Ali, adalah penerimaan kebudayaan barat yang tanpa filterisasi oleh bangsa-bangsa timur, sehingga yang terjadi adalah pembaratan bukannya asimilasi budaya dengan nilai positif. Padahal sebuah bangsa yang memiliki kesadaran identitas kebangsaan akan mampu melahirkan kebudayaan dan peradaban yang baru.

Ideologi dikaitkan juga oleh Ali dengan filsafat, walaupun sebenarnya ideologi hanya sedikit berkaitan dengan filsafat. Ideologi mempunyai tingkatan yaitu: bagaimana cara seseorang memahami dan menerima alam semesta dan manusia; bagaimana memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkungan sosial dan lingkungan mental, serta penyodoran usulan, metode, pendekatan, dan ide-ide yang akan dimanfaatkan untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan. Ideologi menuntut kaum intelektual untuk bersikap setia. Demikianlah yang dipaparkan Ali dalam bagian kedua bukunya.

Pada bagian ketiga, Ali mengupas mengenai peradaban dan modernisasi. Tidak semua kebudayaan dan peradaban dapat dijalankan karena disesuaikan dengan jiwa zaman. Pada bagian akhir bukunya, bagian empat, Ali membahas tentang kisah nestapa kaum tertindas. Bagian akhir tersebut merupakan pengalaman Ali sendiri. Walaupun besar perhatian Ali terhadap kaum lemah dan tertindas tetapi Ali tidak serta merta menyalahkan para pembesar (penguasa) yang lebih memikirkan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya di atas kepentingan rakyatnya.

*****

Bayarlah Upah Sebelum Keringatnya Mengering


Judul Buku : Bayarlah Upah Sebelum Keringatnya Mengering
Pengarang : Eggi Sudjana
Penerbit : PPMI
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2000
Jumlah Halaman : x + 87 hlm




Resensi Saek Guwo

Buku ini membahas mengenai nasib kaum buruh di Indonesia. Kaum buruh telah menjadi korban konspirasi yang sangat kejam. Satu per satu permasalahan seputar kaum buruh diungkapkan sehingga akar masalah perburuhan di Indonesia mulai terkuak. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini adalah pendekatan religius. Dengan pendekatan itulah penulis buku ini mencoba memberikan jawaban dengan wacana baru dan paradigma baru.
Persoalan perburuhan di Indonesia memiliki sifat yang kompleks dan tidak hanya berasal dari hubungan industrial saja melainkan juga berkaitan dengan politik perburuhan dan intervensi negara, termasuk di dalamnya militer. Hal tersebut, menurut Eggi, berkaitan dengan politik pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan, stabilitas, dan distribusi.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan penduduk yang terbesar di dunia, sebenarnya memiliki keuntungan dengan jumlah sumber daya manusia tersebut. Jumlah yang besar itu dapat menjadi potensi yang besar pula, tentunya apabila sumber daya manusia yang besar tersebut memiliki produktivitas dan kemampuan yang handal. Sebaliknya, jumlah yang besar tersebut hanya akan menjadi beban jika jumlah tersebut tidak memiliki nilai produktivitas apapun. Konsekuensi dari realitas seperti itu akan menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan, baik per kapita daerah maupun nasional. Kondisi itu terlihat pada tiga puluh tahun terakhir, Indonesia hanya mencapai tingkatan negara dengan income per kapita hanya mencapai lebih kurang US$ 1100.

Krisis ekonomi menambah runyamnya situasi ketenagakerjaan di Indonesia. Anjloknya nilai rupiah mengakibatkan merosotnya daya beli masyarakat dan macetnya produksi barang dan jasa. Dampaknya, terjadi PHK massal di Indonesia. Pengangguran mencapai jumlah puluhan juta jiwa, sehingga menambah beban perekonomian bangsa.
Buruknya strategi pembangunan dibidang ketenagakerjaan bukan sekedar kurangnya orientasi terhadap pemberdayaan buruh, melainkan berimbas kepada perencanaan substansialnya, mulai dari paradigma hingga perencanaan teknis yang tidak memperhitungkan seluruh elemen yang berkaitan dengan buruh, ketenagakerjaan, dan pembangunan nasional.

Nasib buruh lebih buruk lagi, terutama setelah munculnya gelombang krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. sejumlah pekerja mengalami pemotongan upah dan sejumlah besar lainnya telah mengalami PHK massal.
Secara umum, penyebab buruknya kondisi buruh di Indonesia adalah: pertama, lemahnya posisi tawar (bargaining power) tenaga kerja ketika berhadapan dengan pemilik perusahaan atau industri; kedua, tidak adanya organisasi pekerja yang cukup berbobot dan mempunyai kualifikasi, sebagai lembaga, untuk mewujudkan aspirasi dan kepentingan tenaga kerja; ketiga, kurang responsif dan akomodatifnya kebijakan pemerintah terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan perhatian yang penuh dan kesungguhan pemerintah. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hendaknya lebih berorientasi kepada kepentingan buruh, tentunya tanpa membuat pihak perusahaan tertekan pula. Selama ini yang terjadi adalah buruh menjadi objek untuk kepentingan politik pemerintah. Dalam bukunya ini, Eggi menawarkan solusi agar kebijakan pemerintah berisikan: pertama, kebijakan pemerintah bukan hanya sekedar instrumen tetapi merupakan akses; kedua, kebijakan pemerintah seharusnya mendorong kuantitatif dan mendidik kualitatif; ketiga, pemerintah merupakan sarana untuk membangun sistem (Undang-undang dan kebijakan).

*****

BAHASA MELAYU ATAU BAHASA MINANGKABAU





Oleh: Achung Guwo


Khaidir Anwar menyatakan bahwa sebelum mengenal pendidikan modern, masyarakat Minangkabau telah mengenal semacam bahasa baku tertulis walaupun pada tingkat yang rendah dan ditulis dalam tulisan Arab Melayu. Dalam aksara itulah kita membaca tambo adat, kaba, surat-surat perjanjian hutang piutang, ilmu agama islam, ilmu sihir, dan ilmu kekebalan. Hal tersebut menjelaskan bahwa: pertama bahasa Minangkabau telah ditulis, kedua penulisan pada waktu itu dengan bahasa Arab Melayu, ketiga mengunakan aksara Melayu dan cara membacanya.
Jika berbicara tentang tulisan, tentunya akan melibatkan sistem aksara. Faktanya, peninggalan tertulis budaya Minangkabau ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab dan Latin. Dalam hal ini kita mengambil contoh pada Museum Aditiyawarman Padang yang memamerkan tulisan dalam aksara Minangkabau. Itu menunjukan bahwa etnis Minangkabau memiliki aksara sendiri yang bukan aksara Arab. Jika dibandingkan antara tulisan Arab Melayu dengan bahasa Minangkabau, maka akan terlihat bahwa bahasa Minangkabau bukanlah bahasa Melayu sehingga aksara Arab Melayu tidak sesuai untuk menuliskan bahasa Minangkabau.
Fenomena ini membawa kita kepada kesimpulan, walaupun bersifat sementara, bahwa dalam berbahasa, orang Minangkabau sangat membedakan dan menjaga kesadaran akan perbedaan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa tulis yang di pakai adalah bahasa Melayu, yang dalam kehidupan mereka disebut bahaso melayu tenggih, dan bahasa kiasan disebut juga caro awak. Kesadaran ini sangat menyolok pada penulisan kaba dan pasambahan, misalnya dalam buku pasambahan pidato-pidato adat Minangkabau.
Akan sangat ganjil jika seseorang yang manyambah berbunyi:

Tetapi sungguhpun Engku Datuk nan disembah
Nak serapatnya penghulu nan gadang besar bertuah
Tuanku nan dua bertiga dipersilaan
Semua rapat nan hadir di tengah rumah
Tempat hamba menyembahkan sembah memohonkan salam
Tidak dihatap dibilang gelar
Kepembilang perhatap dengan sembah dimuliakan


Begitulah bunyinya jika dibaca dan ditransliterasi dengan cara filologi murni. Dan, rasanya tidak sampai kepada pendengar, juga tidak sampai kepada pengujar. Nilai rasanya barulah timbul ketika diucapkan seperti berikut:

Tapi sungguahpun Angku Datuak nan di sambah
Mako sarapeknyo pangulu nan gadang basa batuah
Kasadonyo rapek nan hadir di tangah rumah
Tampek ambo manyambahkan sambah dan mamohon salam
Indak di atok dibilang gala
Kapambilang paatok dengan sambah jo pamuliakan


Nyatanya dibunyikan dengan caro awak sehingga idiomatik dengan kebudayaannya akan relevan sampai ke makna dalamnya (deep structure). Inilah kesadaran akan perbedaan bahasa tulisan dan bahasa lisan dalam bahasa Minangkabau.

Perjalanan Sejarah Minangkabau Melalui Bahasa
Bahasa Minangkabau yang menjadi objek pembahasan kita ini digunakan masyarakat Minangkabau. Sebenarnya wilayah Minangkabau ini tidak hanya berada di propinsi Sumatra Barat. Akan tetapi meliputi wilayah yang jauh melampaui batasan batasan propinsi itu. Moussay (1981) menggambarkan bawa secara tradisional, Ranah Minangkabau dahulu membentang hingga Sungai Kampar di sebelah timur, di sepanjang Sungai Indragiri, dan Sungai Batanghari di sebelah tenggara, sampai di Kerinci dan Bengkulu di sebelah selatan, bersamaan dengan tempat tinggal perantau etnis Minangkabau.
Gejala migrasi merupakan ciri khas masyarakat Minangkabau. Sejak abad ke-16 sudah terdapat sekelompok masyarakat Minangkabau di Semenanjung Melayu. Bahkan penduduk Negeri Sembilan mengaku sebagai keturunan transmigran Minangkabau. Tingkat migrasi etnis Minangkabau merupakan yang tertinggi dari seluruh suku bangsa di Indonesia. Bahkan ada pameo yang mengatakan bahwa di setiap keramaian akan ditemui Rumah Makan Padang.

Kajian Tentang Sastra Minangkabau
Tahapan awal kehidupan sastra Minangkabau berupa sastra lisan. Cerita dihafalkan oleh tukang cerita, kemudian dilagukan atau didendangkan kepada pendengarnya. Tahap kedua berupa naskah (tulisan tangan) dengan mengunakan huruf Jawi dan kemudian dengan huruf Latin. Tahap ketiga sastra Minangkabau berupa buku cetakan. Pada akhir abad ke-19 karya sastra Minangkabau, terutama kaba, sudah diterbitkan oleh pemerintah Belanda.
Para ahli mengelompokkan bahasa Minangkabau ke dalam bahasa nusantara, yang apabila di gabungkan dengan bahasa Polinesia dan Melanesia merupakan rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Minangkabau muncul sebagai bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Minangkabau
Bahasa Minangkabau mempunyai kedudukan sebagai bahasa daerah. Dalam hubungan dengan perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia, ke arah pemerintahan otonomi daerah serta pentingnya pembinaan dan pelestarian kebudayaan daerah, bahasa daerah perlu memajukan peranan yang lebih besar dan itu perlu memperoleh perhatian yang lebih luas dan mendalam.
Fungsi bahasa Minangkabau yaitu: pertama lambang kebangaan daerah Sumatra Barat; kedua lambang identitas daerah Sumatra Barat; ketiga alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat Minangkabau; keempat sarana pendukung budaya Minangkabau; dan kelima pendukung sastra Minangkabau dan sastra Indonesia.

Wilayah Asal Bahasa Minangkabau dan Kerinci Berdasarkan Landasan Kebahasaan dan Migrasi Bahasa
Suku bangsa Minangkabau dan Kerinci menurut Kern (1956) berasal dari Cina Selatan bersama-sama dengan suku bangsa lainnya. Mereka melalui segenting Kra yang sekarang berada di bawah pemerintahan Thailand, terus ke semenanjung dan Borneo, Sumatera, dan Jawa.
Berdasarkan landasan kebahasaan melalui pengelompokan bahasa, yang disebut dengan kelompok bahasa Minangkabau dan Kerinci maka kelompok ini adalah dua kelompok bahasa yang diturunkan dari bahasa melayu Polinesia Barat, yang kemudian menurunkan turunan itu. Turunan bahasa Austronesia ini yang menurut Wellenthoirie bahwa dialek-dialek itu akan berkembang menjadi bahasa secara berangsur-angsur dalam keluarga dan rantai bahasa yang sama. Inilah yang barangkali terjadi dalam bahasa Austronesia Barat. Termasuk juga bahasa Melayu turunan langsung bahasa Austronesia Barat.
Garis silsilah kekerabatan bahasa yang dihasilkan merupakan suatu bukti kelompok bahasa yang berada di wilayah Pulau Sumatera Bagian Tengah yaitu kelompok bahasa Minangkabau dan Kerinci. Kelompok itu sendiri telah berkembang masing-masing menjadi beberapa isolek dalam keluarga bahasa yang sama berdasarkan bukti-bukti, baik kuantitatif maupun kualitatif.
Bukti kuantitatif menghasilkan 6 bahasa atau dialek dalam bahasa Minangkabau dan Kerinci. 5 bahasa dalam sub-kelompok Minangkabau (isolek 50 Koto, Tanah Data, isolek Agam, isolek Pariaman Pesisir, isolek Kubung 13, dan isolek Pasaman). 1 bahasa dalam sub-kelompok Kerinci (isolek Kerinci). Di samping bukti kuantitatif tersebut bukti kualitatif terlihat dari penyatuan dan pemisahan kelompok berdasarkan inovasi yang ada. Inovasi dalam hal ini adalah menyimpang dalam kaidah yang berlaku dan menyebabkan timbulnya kaidah yang baru. Penyatuan (bae, agiah, gala, jayi, dan kasia). Sedangkan pemisahan (aden, bada, carah, ciliang, dan ongo).

Sistem Sapaan Kekeluargaan Bahasa Minangkabau dan Bahasa Melayu
Bila diperhatikan persamaan dan perbedaan baik dalam bahasa Minangkabau maupun dalam bahasa Melayu ada kata sapaan khusus yang ditunjukkan untuk menyapa anggota keluarga. Sapaan sapaan itu menunjukkan bahwa setiap anggota keluarga mempunyai fungsi dan peranan dalam sebuah keluarga. Kenyataan ini ditandai dengan adanya kata-kata khusus untuk menyapa yang lebih kecil maupun yang lebih besar. Kata sapaan kekeluargaan bahasa Melayu Minangkabau lebih praktis, karena hanya membedakan antara urutan dalam keluarga yaitu tuo, gadang, tangah, ketek atau kaciak, serta bungsu.
Dalam bahasa Melayu Malaysia dijumpai sebelas sapaan untuk menyapa anak sesuai dengan urutan kelahirannya. Akhirnya, dapat dikatakan bahwa bahasa Minangkabau maupun bahasa melayu Malaysia sama-sama mempunyai sistem menyapa dalam keluarga yang dikaitkan dengan urutan kelahiran. Kenyataan ini dapat dikaitkan dengan tradisi Melayu yang menanamkan respek terhadap orang lain dengan memberikan penamaan yang tepat.

Interfensi Bahasa Minangkabau Terhadap Bahasa Indonesia
Interfensi merupakan akibat dari terjadinya kontak bahasa. Menurut Moeliono (1989) interfensi adalah ragam bahasa yang mengalami gangguan pencampuran yang kadang kala mengganggu rasa bahasa kita atau mengganggu keefektifan penyampaian informasi kita. Interfensi merupakan salah satu mekanisme yang cukup frekuentif dalam perubahan bahasa. Bahkan menrurut Hockett dan Nababan (1983), dalam abad ke-20 ini persentuhan antara bahasa-bahasa makin kompleks, sehingga interfensi dapat dikatakan sebagai gejala perubahan terbesar, terpenting, dan paling dominan dalam bahasa.
Dalam proses interfensi terdapat tiga unsur yang mengambil peran yaitu: bahasa sumber atau bahasa donor, bahasa penyerap, dan unsur serapan. Dalam peristiwa kontak bahasa mungkin sekali dalam satu peristiwa satu bahasa merupakan bahasa donor, sedangkan pada peristiwa lain bahasa tersebut merupakan bahasa penyerap. Saling serap adalah peristiwa umum dalam kontak bahasa. Apabila dua bahasa atau lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama, maka dapat dikatakan bahwa bahasa tersebut dalam keadaan saling kontak.
Kridalaksana (1983) mengungkapkan bahwa interfensi adalah kesalahan bahasa berupa unsur bahasa sendiri yang dibawa ke dalam bahasa atau dialek lain. Interfensi bahasa Minangkabau terhadap bahasa Indonesia adalah salah satu fenomena penggunaan bahasa Indonesia oleh penutur bahasa Minangkabau. Pengunaannya oleh penutur sering kali tanpa sadar memasukan leksikal, tata bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia. Ini dapat terjadi karena faktor linguistik dan faktor non linguistik. Faktor linguistik adalah tingkat perbedaan atau persamaan antara kedua bahasa itu, sedangkan faktor non linguistik adalah sikap pembicara teradap bahasa pertama dan bahasa kedua, sikap penutur terhadap budaya dan sebagainya.

Jenis Interfensi
Jenis interfensi dapat diidentifikasikan atas dua jenis yaitu: pemindahan unsur dari bahasa Minangkabau ke bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut:

Tapacak peluh saya.
Keluar keringat dingin saya
Tapacak paluah den
Saya garutak kamu nanti.
Saya makan kamu nanti.
Den garutak ang beko
Gaca saya dibuatnya
Takut saya karenanya
Takuik den deknyo

Faktor Terjadi Interfensi
Bila diamati dari faktor linguistik dan non linguistik dapat kita rujuk pidato pengukuhan guru besar Muhajir yaitu berpangkal dari bahasa Melayu (kedekatan hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa melayu). Bila orang Minang menulis, maka karya tulisnya akan lebih mirip dengan bahasa Indonesia dari bahasa Minangkabau. Lebih lanjut diurai Muhajir bahwa di wilayah pemakai bahasa Minangkabau lah untuk pertama kali didirikan sekolah guru dengan bahasa pengantar bahasa Melayu sejak tahun 1856. Itulah sebabnya bahasa melayu Minangkabau mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia.
Interfensi adalah suatu fenomena kebahasaan yang ada di tengah-tenah kehidupan bahasa di negeri ini. Masih banyak fenomena yang lain yang perlu dicermati, interfensi ini punya kecendrungan terjadi pada penutur bahasa Minang yang belum beruntung menempuh pendidikan formal. Bagi yang telah menempuh pendidikan formal pun sering kali mengalami interfensi. Begitulah.

10 Agustus 2008

NEGERI TANAH LIAT











Cerpen DM. Thanthar

Ini adalah negeri tanah liat. Sebenarnya negeri ini terhampar untuk mereka yang tidak serakah. Untuk orang yang jujur, walaupun kejujuran itu sering diartikan dengan kelicikan. Dan, mereka yang serakah sering memperbodoh orang-orang yang jujur itu. Akan tetapi, aku tidak akan bisa mereka perbodoh. Kejujuran yang aku adalah kejujuran yang hakiki.
Ini benar-benar negeri tanah liat. Tumbuh-tumbuhan, apapun juga jenisnya, tidak pernah bisa mendustai sejengkal tanahpun untuk bisa tumbuh, apalagi berkembang biak. Kemarin ada sebatang pohon yang berjuang dengan gigih menaklukan racun tanah liat. Perjuangan yang dilakukan pohon itu semata-mata perjuangan untuk hidup. Ternyata, pohon itu berhasil. Racun-racun tanah liat tidak mampu menghanguskan akar-akarnya. Untunglah sang pohon tidak berjiwa sombong, dengan rendah hati ia menggugurkan daunnya sehingga pertarungannya dengan tanah liat berakhir.
Pengorbanan. Ya..pengorbanan. Paling tidak pengorbanan yang dilakukan oleh pohon yang rendah hati itu tidak sia-sia. Pengorbanannya sarat akan makna. Pengorbanan yang menyisakan pelajaran bagi generasi penerusnya.
Sebagai satu-satunya pohon yang mampu melawan racun tanah liat, sebenarnya ia memiliki banyak kesempatan untuk melakukan apa saja. Akan tetapi, ternyata ia masih memiliki hati nurani. Ia jujur tapi tidak licik. Jiwanya tidak serakah. Padahal jika ia mau, ia bisa menjadi raja di negeri tanah liat. Ia tidak mau melakukan itu, karena ia sadar akan kodratnya sebagai hamba. Hamba yang harus selalu mengabdi kepada tuannya. Aku menyebutnya pohon penguasa.
***

Aku pernah mendengar orang-orang negeri tanah liat membicarakan pohon penguasa. Mereka berpendapat bahwa pohon penguasa adalah pohon yang pengecut, mundur sebelum bertarung. Pohon yang sangat bodoh, tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk generasi penerusnya. Pohon yang tidak berguna, karena terlalu jujur.
“Padahal dengan kekuasaan ia bisa menjadi kaya raya, menjadi terpandang, dan dapat hidup dengan enak.” Ujar salah seorang dari mereka.
Aku hanya tersenyum kecut mendengarkan pendapat mereka. Pendapat mereka tidak satupun yang sesuai dengan pemikiranku. Mereka seolah tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, dengan arti kejujuran, arti kekuasaan. Aku tahu, mereka terlalu muda untuk menilai dan mengkaji sebuah persoalan hidup. Malah lebih dari itu, aku mencurigai mereka sebagai produk Barat yang selalu memuja-muja materi dan mencintai kebebasan. Kebebasan yang kebablasan. Dan akhirnya, saudara mereka yang bergelut dengan kemelaratan. Saudara mereka yang merana karena hilangnya etika dan rambu-rambu dalam kehidupan. Artinya, mereka dituntun menjadi binatang.
Sebagai seorang pengembara, sudah pasti aku adalah seorang pemuja kebebasan. Namun demikian, kebebasan yang aku anut adalah kebebasan yang terbatas. Aku bebas melangkah sesuai kehendakku. Tetapi aku tidak akan bebas mengembara siang dan malam, karena aku terbatas oleh kemampuan fisikku. Aku akan dibatasi oleh rasa kantuk, oleh rasa lapar, dan oleh rasa letih. Apalagi aku adalah hamba, harus mematuhi rambu-rambu hidup yang telah dititahkan tuanku. Aku diberi hak, tentu aku juga harus menunaikan kewajiban. Jadi, jelas kebebasan yang aku pahami berbeda dengan yang mereka pahami. Kebebasanku adalah kebebasan yang terbatas, bukan kebebasan yang kebablasan. Ketika hal itu aku sampaikan kepada mereka, hanya cibiran yang aku terima.
Aku bukanlah orang yang terpandang dalam kaumku. Aku juga bukan seorang pengajar kebijaksanaan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan pohon penguasa bukanlah tindakan yang pengecut. Mundur bukan berarti gugur, jujur bukan berarti hina dan tidak berguna. Makna yang ada dibalik itu yang harus diselami. Bahwa penguasa tidak boleh serakah, harus jujur. Tetapi, aku sangat meragukan akan bisa menemukan penguasa yang mengundurkan diri dari jabatannya dengan sukarela. Bagaimana mau mundur, mendapatkan jabatan saja harus gontok-gontokan. Paling tidak hal seperti itu telah banyak aku saksikan dari tanah dan negeri yang pernah aku jejak.
Ada makna yang terkandung dibalik kematian pohon penguasa. Makna yang sangat berguna bagi generasi penerusnya. Aku melihat pohon penguasa hanya ingin mengajarkan generasinya akan makna hidup yang hakiki. Hidup harus berjuang. Dengan demikian, maka generasinya tidak hanya membonceng pada kesuksesan yang telah ia raih dengan susah payah. Menjalani hidup harus bercermin kepada setiap sisi kehidupan. Dengan melihat setiap sisi kehidupan suatu generasi akan mengerti akan pahit-manisnya hidup, paham akan hitam-putihnya hidup. Dengan demikian, akan lahir generasi dengan jiwa yang kokoh, yang tidak akan menindas mereka yang lemah.
Ya seperti itulah. Mungkin pola pikir yang berbeda, sehingga otak dan jiwa melahirkan pendapat yang berbeda pula. Tetapi mungkin juga kedalaman pemikiran yang berlainan, sehingga asumsi yang dimuntahkan tidak pernah bisa beriringan. Atau, cara pandang yang berseberang, sehingga lahir ide yang saling tantang.
Namun demikian, apapun yang menjadi pembeda antara aku dan mereka, paling tidak semuanya membuktikan bahwa kami adalah manusia. Manusia memang sangat erat dengan fikiran, karena kalau manusia tidak berfikir berarti belum menjadi manusia. Manusia memang harus berfikir, walaupun hasil pemikiran akan berlainan.
Mereka manusia, aku juga manusia. Tetapi jelas aku bukanlah mereka. Aku adalah seorang pengembara yang berjalan tanpa arah. Aku hanya mengandalkan naluriku menuntun sepasang kakiku untuk menorehkan jejak. Jejak yang mungkin nanti akan berguna bagi anak negeri dari tanah yang aku jejak itu. Termasuk bagi anak negeri tanah liat ini.
***

Aku sangat menyanjung naluri, sama halnya dengan tingginya sanjunganku terhadap hati nurani. Sebagai seorang pengembara, telah banyak tanah dan negeri yang aku jejak. Disetiap tanah dan negeri yang aku jejak itu, selalu muncul pertanyaan dalam benakku.
“Apakah para penguasa disetiap negeri masih memiliki naluri? Masih memiliki hati nurani?”
Pertanyaan itulah yang selalu muncul, tidak pernah berbeda, selalu sama. Kendati demikian, aku juga memahami bahwa pertanyaan tidak akan hadir begitu saja. Sebuah pertanyaan biasanya muncul dari keragu-raguan, sementara keragu-raguan hadir setelah adanya proses pembelajaran dan pengamatan.
Aku pikir tidak aneh jika pertanyaan yang sama selalu hadir dalam benakku. Sebagai pengembara aku telah menjejak banyak tanah dan negeri. Sebagai pengembara aku juga bertualang, dan menjadikan alam sebagai guruku. Alam telah banyak mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan kepadaku. Dengan kearifan dan kebijaksanaan itulah aku dapat melihat segala fenomena yang ada ditiap tanah dan negeri yang pernah aku datangi. Dari pengamatanku aku selalu melihat penderitaan berada di pangkuan rakyat jelata. Kemelaratan seolah-olah telah menjadi jatah rakyat. Sementara kemegahan dan kemewahan mutlak menjadi milik penguasa.
Penguasa-penguasa megeri bergelimang dengan harta. Para kerabatnya hidup dengan makmur tanpa perlu perjuangan. Akibatnya naluri dan hati nurani mereka menjadi mati. Mereka tidak akan pernah bisa merasakan pahitnya hidup para gelandangan. Mereka hanya ternganga ketika manusia-manusia binatang telah berkeliarn di tengah kota. Manusia-manusia binatang itu membuat kekacauan, menimbulkan keresahan dengan merampok, membunuh, memperkosa, menganiaya, menindas kaum lemah, dan merampas hak orang lain.
Pernah suatu ketika, manusia binatang dibunuh oleh seorang pemuda. Pemuda yang muak dengan kelakuan manusia-manusia binatang itu. Namun yang terjadi, pemuda itu malah ditangkap dan diberikan hukuman oleh penguasa. Alasannya hanyalah karena pembunuhan yang berencana, sengaja membawa senjata tajam. Padahal kalau manusia binatang itu tidak dibunuh, akan banyak lagi mereka yang tidak berdosa akan mati. Bukankah penguasa tidak mampu menangkap manusia binatang itu, dan juga tidak mampu melindungi rakyat sepenuhnya. Menurutku itu sungguh sebuah ketidakadilan.
Aku tidak akan memberikan arti apa-apa untuk negeri ini. Aku hanya akan mengatakan bahwa negeri kalian adalah negeri yang sangat kaya. Namun, kalian hidup dalam kemiskinan. Dulu masih ada kekayaan yang bisa kalian banggakan, yaitu kekayaan jiwa dan akhlak. Kini..? Kalian lihat saja sendiri, kalian miskin jiwa dan raga. Tidak ada kata terlambat jika kalian ingin melakukan perubahan.
Aku tidak akan lama berada di negeri tanah liat ini. Sepasang kakiku tidak akan tahan untuk diam dan ongkang-ongkang saja. Kodratku sebagai pengembara mengharuskan aku untuk terus bergerak. Karena, jika aku berhenti bergerak berarti aku tak layak lagi mengukir jejak.
***

Maninjau, 5 Februari 2006

07 Agustus 2008

SEJARAH BUKAN SASTRA



“Sejarah dan Sastra berbeda dalam struktur dan substansinya. Sejarah adalah sejarah sebagai ilmu, dan sastra adalah sastra sebagai imajinasi.” (Kuntowijoyo, 2004).





Oleh : Donk Guwo



Sejarah sebagai ilmu selalu terikat kepada prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Selain itu sejarah sebagai ilmu juga terikat kepada penalaran yang berdasarkan fakta. Pemujaan sejarah terhadap fakta memang sangat mendalam, sehingga fakta telah menjadi tumpuan mutlak bagi sejarah. Tanpa fakta maka penulisan sejarah tidak akan menjadi karya sejarah, bahkan sangat mungkin hasil akhir penulisan sejarah yang mengabaikan fakta akan menjadi karya sastra.

Kuntowijoyo melihat perbedaan sejarah dengan sastra dalam tiga hal, yaitu cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Cara kerja sastra merupakan pekerjaan imajinasi yang lahir dan dibangun oleh pengarangnya. Imajinasi yang dibangun itu sesuai dengan kehidupan yang dipahami oleh pengarang. Dengan demikian, pengarang atau penulis karya sastra lebih memiliki kebebasan dalam melahirkan karya. Bahkan seorang penulis karya sastra (Cerpenis, Novelis, dll) berhak membangun dunianya sendiri, sesuai dengan yang ada dalam imajinasinya. Hal itu dapat terjadi karena kebenaran dalam karya sastra berada di bawah kekuasaan pengarang. Kebenaran dalam karya sastra lahir dari sikap subyektif pengarang terhadap dunia yang dibangunnya. Akan tetapi, untuk hasil keseluruhan pengarang dituntut agar selalu disiplin dengan dunia yang telah dibangunnya. Saat menarik kesimpulan atau mengakhiri karyanya, penulis karya sastra tidak terikat dengan kesimpulan yang konkret. Dengan melemparkan sebuah pertanyaan kepada pembaca, pengarang sudah bisa mengakhiri karyanya.

Cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan yang ada dalam sebuah karya sastra tidak dapat dilakukan dalam penulisan sejarah. Seperti yang telah disinggung pada awal tulisan ini, sejarah sangat bertumpu kepada fakta. Tumpuan terhadap fakta mengharuskan sejarawan untuk berfikir dan bersikap obyektif. Sikap obyektif akan sangat menentukan hasil akhir dari sebuah penulisan sejarah. Kebenaran dalam sejarah ditentukan oleh sejauhmana usaha sejarawan dalam mencari, mengakaji, dan menganalisa fakta-fakta yang ada dengan seobyektif mungkin. Sejarah harus memberikan informasi secara lengkap, tuntas, dan jelas kepada pembaca – dalam hal ini masyarakat. Namun demikian, dalam kenyataannya setiap karya sejarah tidak dapat dipisahkan dari unsur subyektifitas penulisnya. Penulisan karya sejarah yang 100 % obyektif memang sangat sulit dilakukan, bahkan dapat dikatakan penulisan sejarah yang benar-benar obyektif tidak akan pernah ada. Hanya saja para sejarawan dituntut untuk meminimalkan unsur subyektif.

Kaitan Sejarah dengan Sastra

Sejarah dan sastra akan memiliki kaitan ketika sejarah itu dipandang dari konteks sejarah sebagai seni. Sejarah sebagai seni akan terlihat dari kebutuhan sejarah akan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa. Semua faktor yang dibutuhkan sejarah tersebut merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam sastra, hanya saja dalam penerapannya tentu tidak akan sama.

Pencarian intuisi bagi seorang sejarawan harus dilakukan dengan tetap mengingat data-data yang telah ada. Pencarian intuisi yang dilakukan sejarawan tersebut tentu saja berbeda dengan pencarian intuisi yang dilakukan oleh seorang pengarang. Pengarang cenderung bebas dalam mencari intuisi.

Demikian juga halnya dengan imajinasi dan emosi yang dibutuhkan sejarawan. Imajinasi yang dilakukan sejarawan lebih mengarah kepada imajinasi yang kongkret. Artinya, imajinasi bagi seorang sejarawan bertujuan untuk menggambarkan kondisi dan keadaan ketika terjadinya suatu peristiwa, bukan imajinasi yang akan membangun dunia sendiri. Penuangan imajinasi ke dalam bentuk tulisan harus melibatkan emosi dan gaya bahasa yang menarik dan lugas, bukan gaya bahasa yang menggunakan majas.

Penggunaan seni sastra dalam penulisan sejarah akan memberikan karakterisasi dan struktur yang jelas terhadap karya sejarah. Namun demikian, kedekatan sejarah kepada seni akan dapat menghilangkan ketepatan dan obyektifitas sejarah. Tidak hanya itu, kedekatan sejarah dengan seni juga akan mempersempit ruang gerak sejarah. Jadi jelas sejarah bukanlah sastra, walaupun sastra juga memberikan sumbangan penting dalam konteks sejarah sebagai seni.

*****

SALAM ANAK GUWO


Coretan Kecil Untuk Renungan

Sewaktu-waktu kehidupan ini tidak sebahagia senyum bayi. Juga tidak seindah biasan pelangi yang hadir di langit setelah gerimis usai. Hidup benar-benar sebuah perjuangan. Perjuangan yang melahirkan pertempuran maha dahsyat. Bukan layaknya pertempuran kanak-kanak, yang ketika sang hero mati akan bisa bangkit lagi dan kembali menyerang sehingga musuh-musuhnya tunduk dan takluk.

Masa kanak-kanak selalu berlalu. Ia pergi bersama senja dan tidak akan pernah kembali lagi bersama fajar. Masa kanak-kanak merupakan salah satu dari sekian banyak pucuk kebahagiaan yang ada pada pohon kehidupan. Kebahagiaan masa kanak-kanak tidak akan pernah lelah mengendap dalam memori insan, bahkan sampai saat batas langkah telah nyata sekali pun.

Perih terkadang menyisip kala mengenangkan masa kanak-kanak, karena di sela bahagianya juga terselip luka yang ditorehkan oleh sembilu waktu. Akan tetapi jangan tumpahkan air mata untuk pembasuh perih itu. Biarkan ia mencari maknanya sendiri dalam titian waktu. Sementara itu, tetaplah membekaskan jejak untuk perjuangan abadi. Perjuangan yang hanya akan berhenti ketika insan telah memahami makna ke-aku-an.

Senja yang membawa masa kanak-kanak biarlah pergi, lenyap, musnah, dan sirna sekalian. Semoga kesombongan dan kemunafikan jiwa ikut serta bersamanya. Kendati demikian, keegoan jiwa tidak akan sepenuhnya hilang dalam pekat malam. Ia akan selalu menyeruak di balik kebeningan embun remaja dan menawarkan sejuta warna untuk embun itu. Tidak ada yang bisa menebak warna apa yang akan singgah. Mungkin biru, hijau, merah, kuning, atau bahkan mungkin juga hitam. Pastinya, tidak akan pernah hadir warna yang benar-benar putih karena kita manusia, bukan malaikat.

Dinamika warna kehidupan remaja memang bergulir bersama denyut dan detak waktu yang diiringi rentak dan geliat kebudayaan. Waktu melangkah dalam keteraturannya yang sempurna, sesuai dengan titah yang menjadi tanggungjawabnya. Sementara, kebudayaan sering oleng dalam tariannya, bahkan juga mengalami benturuan-benturan dengan sejuta isme, ideologi, dan kepentingan. Tentunya, hanya yang terkuatlah yang akan jadi Sang Dominan. Namun demikian, Sang Dominan tidak akan mutlak menjadi penguasa jiwa dan menjadi warna bagi nafas kehidupan remaja karena jiwa remaja sangatlah dinamis.

Petualangan jiwa remaja bersama waktu dan budaya akan mencapai batas dan menyisakan sesuatu yang bernama kepribadian. Kepribadian untuk menuju kedewasaan. Kedewasaan yang entah telah datang kepada kita entah belum. Kita tidak akan bisa memvonisnya karena senandung sesat iblis selalu mengombang-ambingkan manusia ketika hendak menelanjangi jiwanya untuk mencari kedewasaan, yang pada hakikatnya merupakan upaya untuk mencari jati diri dan makna hadirnya sebagai hamba dan khalifah di bumi.

Sebenarnya kedewasaan itu tidak perlu dicari, karena ia selalu datang tiap pagi untuk menghirup kearifan dan kebijaksanaan nan bersuci dengan kejujuran embun. Kedewasaan adalah fajar yang kehangatannya senantiasa membelai hidup dan kehidupan. Kedewasaan bukanlah matahari yang akan membutakan mata hati dan membisukan suara nurani dengan sengatan panasnya. (DMT)

Guwo Video

Loading...