GUWO MP3 Clips

03 Juli 2015

Sekilas Mengenal Istana Kepresidenan Bogor (Bogor Presidential Palace)




Oleh: DM. Sutan Zainuddin


Berkunjung ke Kota Bogor kurang lengkap rasanya jika tidak singgah dan menikmati sejuknya udara di Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor yang lokasinya tidak jauh dari Terminal Bus Baranang Siang itu akan memanjakan anda dengan koleksi tumbuhannya yang sangat beragam. Tidak salah jika Kebun Raya yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu menjadi pusat Penelitian Botani di Indonesia. Di areal Kebun Raya Bogor itu pulalah berdirinya Istana Kepresidenan Bogor. Istana yang sarat dengan peristiwa-peristiwa bersejarah semenjak zaman kolonial hingga sekarang.
 Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1 Kota Bogor Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 kilometer dari Kota Jakarta. Luasnya sekitar 28,86 hektar dan berada pada ketinggian 290 meter di atas permukaan laut.

Keberadaan Istana Kepresidenan Bogor berawal dari keinginan Gubernur Jenderal Belanda yakni G.W. Baron Van Imhoff untuk mencari tempat yang berhawa sejuk di luar Kota Batavia (sekarang Jakarta). Pencarian lokasi berhawa sejuk yang dilakukan Baron Van Imhoff dikarenakan cuaca dan hawa Kota Batavia yang dirasa terlalu panas dan ramai sehingga tidak cocok menjadi tempat beristirahat. Pada tanggal 10 Agustus 1744 ia menemukan sebuah tempat di Kampoeng Baroe yang menurutnya sangat cocok untuk membangun tempat peristirahatan (pasanggrahan) karena lokasinya bagus dan strategis.
Pada tahun 1745 Baron Van Imhoff (1745-1750) memerintahkan pembangunan pasanggrahan di lokasi pilihannya. Pasanggrahan tersebut diberi nama Buitenzorg yang berarti bebas dari masalah dan kesulitan. Sketsa bangunannya mencontoh arsitektur Istana Blenheim di Inggris yakni kediaman Duke of Marlborough yang berada dekat Kota Oxford di Inggris.
Istana Buitenzorg mengalami kerusakan yang parah ketika terjadinya Perang Banten (1750-1754)  yang dipimpin Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Kerusakan Istana Buitenzorg akibat perang yang terjadi selama 4 (empat) tahun tersebut kembali diperbaiki oleh Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff.

Pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Deandels (1808 -1811) dilakukan perluasan gedung yakni dengan menambah lebar bangunan kebagian kiri dan kanan. Pengembangan gedung Istana Buitenzorg juga dilakukan pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Baron Van Der Capellen (1817-1826) yakni dengan merenovasi gedung induk utama menjadi dua tingkat. Di tengah-tengah gedung induk didirikan kubah (dome) dan lahan di sekeliling Istana Buitenzorg dijadikan sebagai Kebun Raya untuk keperluan riset ilmu Botani. Kebun Raya tersebut diresmikan pada tanggal 18 Mei 1817.
Pada 10 Oktober 1834 terjadi bencana gempa bumi yang mengakibatkan Bangunan Istana Buitenzorg mengalami kerusakan sangat parah sehingga tidak dapat digunakan lagi sebagai tempat peristirahatan. Pada masa Pemerintahan Albertus Yacob Duijmayer Van Twist (1851-1856) bangunan lama yang telah rusak oleh gempa dirobohkan dan dibangun kembali secara keseluruhan menjadi bangunan baru satu tingkat dengan mengambil desain arsitektur Eropa Abad IX.
Penyelesaian bangunan Istana Buitenzorg baru terjadi pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Petinggi Belanda yang terakhir menggunakan Istana Buitenzorg adalah Gubernur Jenderal Tjarda Van Starckenborg Stachouwer (1936-1942). Tjarda secara terpaksa harus menyerahkan Istana Buitenzorg kepada Jenderal Imamura sebagai Pemerintah Pendudukan Jepang setelah pasukan Jepang berhasil mengalahkan Belanda.
Tercatat sebanyak 44 (empat puluh empat) Gubernur Jenderal Belanda yang pernah menempati Istana Buitenzorg. Pada tahun 1949 Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih Istana Buitenzorg dan memfungsikannya sebagai Istana Kepresidenan Republik Indonesia.


Fungsi Utama
Setelah dinyatakan sebagai Istana Kepresidenan RI maka fungsi istana berubah menjadi kantor urusan kepresidenan sekaligus menjadi tempat kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Sejalan dengan fungsi tersebut, telah banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Istana Kepresidenan Bogor. Beberapa peristiwa penting yang pernah berlangsung di Istana Kepresidenan Bogor yakni Konferensi Lima Negara pada tanggal 28-29 Desember 1954, Pembahasan Masalah Konflik Kamboja pada Forum Jakarta Informal Meeting (JIM) tanggal 25-30 Juli 1988, Pertemuan Para Pemimpin APEC tanggal 15 November 1994, dan di Istana Kepresidenan Bogor pula terjadinya Peristiwa Penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang dikenal dengan sebutan Supersemar.

Gedung Induk
Luas Gedung Induk adalah 500 m2, terdiri dari delapan ruang yaitu Ruang Garuda, Ruang Teratai, Ruang Film, Ruang Makan, Ruang Kerja Presiden, Ruang Perpustakaan, Ruang Keluarga dan kamar tidur, serta Ruang Tunggu Menteri.
Adapun fungsi masing-masing ruang adalah sebagai berikut. Ruang Garuda berfungsi sebagai ruang resepsi; Ruang Teratai merupakan ruang yang digunakan untuk menerima tamu presiden; Ruang Film adalah ruangan tempat pemutaran film. Pada masa Presiden Soekarno ruangan ini pernah berfungsi sebagai ruang pemutaran film; Ruang Makan berfungsi sebagai ruang makan utama; Ruang Kerja Presiden berfungsi sebagai tempat bekerja presiden; Ruang Keluarga dan Kamar Tidur merupakan ruangan tempat beristirahat sekaligus ruang tunggu presiden ketika akan menghadiri acara di Ruang Garuda; Ruang Tunggu Menteri adalah ruangan tempat para menteri menunggu sebelum mengikuti acara-acara yang diselenggarakan di Ruang Garuda.

Ruang Garuda
Ruang Garuda memiliki latarbelakang Burung Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia. Garuda Pancasila berukuran besar digantungkan di dinding tembok ruangan. Pada dua sisi (kiri dan kanan) dinding ruang penghubung terdapat masing-masing cermin berbingkai keemasan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Kedua cermin tersebut dikenal dengan Cermin Seribu. Disebut Cermin Seribu karena jika anda berdiri di antara dua cermin tersebut maka bayangan anda pada masing-masing cermin akan terlihat sangat banyak seolah-olah ada ribuan bayangan.

Gedung Induk Sayap Kiri dan Gedung Sayap Kanan
Gedung ini diperuntukan bagi para menteri yang menyertai Tamu Negara. Gedung Induk Sayap Kanan diperuntukkan sebagai tempat menginap tamu dan para kepala negara. Berbeda dengan Gedung Induk Sayap Kanan, Gedung Induk Sayap Kiri terdiri dari dua ruangan yakni Ruang Konferensi dan Ruang Tidur serta Ruang Tengah.
Ruang Konferensi pernah digunakan sebagai tempat diselenggarakannya Konferensi Lima Negara (Ruang Panca Negara) yaitu pada tahun 1954. Konferensi bertujuan untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Sementara Ruang Tidur dan Ruang Tengah berfungsi sebagai tempat menginap para menteri, tamu Negara, dan tamu agung.

Bangunan-bangunan lain di Lingkungan Istana Kepresidenan Bogor
Selain Gedung Induk, di Lingkungan Istana Kepresidenan Bogor juga terdapat beberapa bagunan yang merupakan paviliun. Bangunan-bangunan tersebut adalah Paviliun Amarta (Paviliun I), Paviliun Madukara (Paviliun II), Paviliun Pringgondani (Paviliun III), Paviliun Dwarawati (Paviliun IV), dan Paviliun Jodipati (Paviliun V). Setiap paviliun memiliki fungsi sebagai tempat peristirahatan bagi tamu kepresidenan. Selain lima paviliun tersebut ada satu paviliun lagi yakni Paviliun Dyah Bayurini yang biasa digunakan oleh presiden dan keluarga ketika berada di Istana Kepresidenan Bogor.

Kepustakaan dan Benda Seni
Perpustakaan Istana Kepresidenan Bogor memiliki koleksi sekitar 3.205 buku. Istana Kepresidenan Bogor juga menyimpan banyak benda seni bernilai tinggi. Benda seni tersebut berupa lukisan, patung, aneka ragam keramik, dan benda-benda seni lainnya.
Jumlah lukisan yang terdapat di Istana Kepresidenan Bogor sekitar 520 lukisan. Sementara jumlah patung berkisar 216 patung dengan ragam jenis dan ukuran. Selain itu Istana Kepresidenan Bogor juga mengoleksi berbagai jenis keramik. Sedikitnya ada 196 jenis keramik yang terdapat di istana yang dikelilingi Kebun Raya Bogor tersebut. Semua benda-benda seni tersebut tersimpan dan terawatt dengan baik di museum yang ada di lingkungan Istana Kepresidenan Bogor.

Rusa-rusa totol dan Halaman Istana

Pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Deandels (1808-1811) di halaman istana didatangkan dan dipelihara enam pasang rusa totol (axis-axis). Rusa totol tersebut berasal dari daerah perbatasan India-Nepal. Hingga kini rusa-rusa tersebut masih terus berkembang dan menjadi salah satu daya tarik tersendiri Istana Kepresidenan Bogor. Diperkirakan populasi rusa-rusa totol yang berkeliaran bebas di lingkungan Istana Kepresidenan Bogor itu telah mencapai 785 ekor.

Sumber: Dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Guwo Video

Loading...