07 September 2015

PUISI TANPA JUDUL




Cerpen DM. Thanthar

Pagi baru saja menyambangi bumi. Embun-embun juga masih betah bermain-main di ujung-ujung lancip rerumputan. Tapi, ku dapati, Dira sudah duduk termenung di tepian Danau Maninjau. Matanya memandang jauh ke tengah danau, seakan sedang mengharapkan sesuatu keluar dari dasar danau.

Rasa ingin tahu membawaku melangkah mendekatinya. Tapi Dira hanya acuh. Bahkan saat aku duduk di sampingnya pun ia tetap acuh. Padahal biasanya ia selalu antusias dengan keberadaanku. Jika sudah bersamaku, ia selalu bercerita tentang semua kisah yang pernah singgah padanya.

03 Juli 2015

Sekilas Mengenal Istana Kepresidenan Bogor (Bogor Presidential Palace)




Oleh: DM. Sutan Zainuddin


Berkunjung ke Kota Bogor kurang lengkap rasanya jika tidak singgah dan menikmati sejuknya udara di Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor yang lokasinya tidak jauh dari Terminal Bus Baranang Siang itu akan memanjakan anda dengan koleksi tumbuhannya yang sangat beragam. Tidak salah jika Kebun Raya yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu menjadi pusat Penelitian Botani di Indonesia. Di areal Kebun Raya Bogor itu pulalah berdirinya Istana Kepresidenan Bogor. Istana yang sarat dengan peristiwa-peristiwa bersejarah semenjak zaman kolonial hingga sekarang.
 Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1 Kota Bogor Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 kilometer dari Kota Jakarta. Luasnya sekitar 28,86 hektar dan berada pada ketinggian 290 meter di atas permukaan laut.

14 Juni 2012

Mahalnya Pendidikan Bagi Si Miskin



Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Pendidikan adalah hak semua anak bangsa karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu amanat  yang tercantum dalam batang tubuh UUD 1945. Untuk memberikan hak anak bangsa itu pemerintah telah berupaya menetapkan berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut mengalami perubahan silih berganti mengiringi silih bergantinya pejabat yang mengurusi bidang pendidikan. Hasilnya, saat ini telah ada wajib belajar bagi anak bangsa tetapi hanya sampai jenjang sekolah menengah atas.

Membaca Singgalang Jumat, (8/6/2012) dengan judul Gemi berangkat ke USU, Erni ke UI yang mengabarkan tentang perjuangan anak bangsa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi membuat saya merinding. Kenapa tidak, begitu berat perjuangan memperoleh pendidikan bagi mereka nan terlahir dalam keluarga kurang mampu secara ekonomi.

03 Juni 2012

Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Dulu, ketika saya membuka email, saya meihat satu pesan dari seorang sahabat. Email tersebut sepertinya diforward kepada saya, subyeknya sesuai dengan judul tulisan ini yakni Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja. Awalnya, kehadiran email tersebut saya abaikan saja karena saat itu saya sedang tidak ingin membaca sesuatu tulisan yang berkaitan dengan kata-kata cinta. Jika meminjam istilah anak muda zaman sekarang, agaknya saat itu saya sedang galau sehingga hanya ingin melakukan sesuatu yang bersifat religius tanpa cinta.

Beberapa bulan setelah itu, tiba-tiba saya ingin sekali membuka email tersebut dan membacanya dengan tuntas. Usai membaca, ternyata tak cukup sekali, saya mengulang lagi membacanya sampai berkali-kali. Lantas, saya mencoba menyelami makna nan tersimpan dalam cerita itu. Ketika itu saya menyadari bahwa andai email itu saya baca pada saat saya galau dahulu tentu kegalauan saya akan segera bisa saya tepiskan. Emailnya hanya berisikan hal yang sederhana, namun bagi saya cukup bermakna. Makna itu makin terasa kembali ketika saya mulai memikirkan masa depan untuk membangun jamaah kecil dalam ikatan suci. Nah, pada kesempatan ini saya mempostingnya disini untuk anda. Tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar berbagi.

***

Suatu ketika kau sedang duduk di halte. Sebuah bis datang, dan kau bilang, "Wah...terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja"

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini... nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,

"Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan". Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak 'Kiri !' dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Nah, bagi anda yang sedang menunggu bis cinta, bis seperti apakah yang anda tunggu?

***

19 Oktober 2009

Menulis Itu Keterampilan Berbahasa

Oleh: DM. Thanthar

Menulis adalah salah satu bagian dari keterampilan berbahasa. Artinya, seseorang yang disebut sebagai orang yang terampil berbahasa jika ia juga terampil menulis. Dengan demikian, seseorang yang menyatakan dirinya sebagai ahli bahasa idealnya mahir menulis.

Kemampuan menulis merupakan satu bagian penting dari keterampilan berbahasa disamping kemampuan mendengar, menyimak, dan berbicara. Keterampilan menulis sangat penting untuk dikuasai, terutama oleh kaum terpelajar. Hanya saja peminat keterampilan menulis masih sangat kurang. Dari sekian juta masyarakat Indonesia, masih didominasi oleh manusia-manusia yang lumpuh menulis. Bahkan kalangan terpelajar sendiri masih banyak yang 'alergi' untuk menulis. Ketika hal tersebut dipertanyakan maka bermunculan berbagai retorika bahkan tuding menuding untuk mencari kambing hitam.

Terlepas dari semua itu, ketika minat menulis itu ada maka akan banyak cara untuk mengasah keterampilan menulis itu. Salah satunya dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi tentang kepenulisan. Atau bisa juga dengan mengelola majalah kampus dan media tulisan lainnya. Artinya, jika tulisan kita belum mampu menembus majalah-majalah, koran-koran, ataupun jurnal-jurnal ilmiah maka terbitkan saja majalah sendiri. Keberadaan media tulisan yang dikelola sendiri atau kelompok akan menjadi arsip bagi tulisan-tulisan yang pernah kita buat.

Untuk memulai menulis sebenarnya gampang. Mudah bana. Belum mencoba sudah mengatakan sulit, itu jelas keliru. Bagi yang ingin mencoba, paling tidak bisa diterapkan beberapa langkah sederhana, di antaranya:

Pertama, anda harus memiliki kepedulian terhadap orang dan lingkungan sekitar. Hal ini terkait dengan manusia sebagai makhluk sosial. Zoon Politicon, kata Aristoteles. Oleh karena itu manusia tentu selalu mempunyai keinginan untuk larut dan bergaul dengan orang serta lingkungannya. Keinginan hidup bersama dalam suatu tatanan interaksi itulah yang menjadi dasar dan inti kehidupan berasyarakat.

Bergaul dengan sebanyak mungkin orang, badan kemasyarakatan, dan organisasi untuk mengembangkan bakat anda. Caranya, adalah dengan pengamatan yang intensif terhadap berbagai gejala yang berlangsung. Disitu, seorang calon penulis dituntut memiliki kepekaan sosial. Artinya, seorang penulis harus selalu mengasah ketajaman mata pisau pengamatannya.

Kedua, bangun kegemaran dan kebiasaan membaca. Menulis memang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan membaca. Agar menjadi penulis, gemar membaca merupakan salah satu syarat mutlak. Rajin dan teratur membaca akan membuat seseorang terlatih dan terbiasa berfikir kritis analitis. Berfikir kritis analitis tersebut merupakan kriteria utama yang harus dimiliki seorang penulis. Melalui membaca, daya imajinasi akan tumbuh dan berkembang, wawasan berfikir juga akan makin luas. Dengan kata lain, membaca merupakan upaya memancing ide-ide kreatif.

Ketiga, anda harus giat berlatih. Tanpa latihan yang rutin tak akan ada yang bisa menjadi sesuatu sesuai yang diimpikan. Apapun bidang yang digeluti oleh orang-orang sukses, latihan merupakan langkah yang pernah mereka lalui. Cara berlatih menulis itu sederhana saja yakni dengan membiasakan menuliskan apa saja yang terjadi dalam keseharian anda. Lakukan secara terus menerus dan kemudian tingkatkan dengan menulis dengan lebih serius. Setelah itu mulai coba mengirimkan tulisan anda ke berbagai media dengan tujuan publikasi.

Jika anda telah memulai maka jangan pernah berhenti. Sekarang anda membaca tulisan orang, besok atau lusa tulisan anda yang akan dibaca orang. Tanamkan keyakinan itu pada diri anda. Selamat mencoba. (Kingdon181)

03 Maret 2009

Valentine Day Bukan Hari Kasih Sayang

Maninjau, GUWO News – Selasa(3/3/09). Valentine Day (VD) pada dasarnya merupakan hari untuk mengenang kematian Valentino, yakni seorang yang berani menentang kebijakan Kaisar Romawi Kuno tentang pelarangan untuk menikah kepada para pemuda.

Alasan mendasar dari kebijakan kaisar romawi kuno tersebut adalah akan melemahnya fisik para pemuda setelah mereka menikah. Hal itu terkait dengan tujuan kaisar yang terobsesi membangun pasukan perang yang tangguh untuk menghadapi musuh-musuhnya.

Munculnya sosok Valentino sebagai penentang kebijakan merupakan ancaman bagi kaisar dalam mewujudkan obsesinya sehingga Valentino ditangkap dan divonis hukuman mati oleh kaisar. Kondisi itu memunculkan simpati masyarakat Romawi Kuno kepada Valentino sehingga mereka menjadikan Valentino sebagai simbol kekuatan kasih sayang.

Sementara itu, kaisar sendiri mengadakan semacam perayaan setiap tanggal 14 Februari - yang merupakan tanggal kematian Valentino - sebagai peringatan kepada rakyatnya yang berani menentang kebijakan kaisar.

Pada perkembangan selanjutnya tanggal 14 Februari dikenal sebagai Valentine Day dan gaungnya menyebar ke seluruh penjuru dunia, sampai ke Indonesia. Peringatan VD itu dimaknai dengan perayaann yang beragam oleh tiap-tiap masyarakat sehingga menjadi semacam perayaan yang pada akhirnya disebut dengan Hari Kasih Sayang.

Aneh memang, karena secara arti kata sangat tidak sesuai Valentine Day diartikan dengan Hari Kasih Sayang. Akan tetapi dinamika masyarakat Indonesia yang cenderung latah dalam mengikuti perkembangan dunia luar menjadikan VD mengakar dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.

Antusias generasi muda sangat terlihat ketika mendekati tanggal 14 Februari. Mereka membeli bermacam-macam kado untuk sang kekasih atau untuk orang-orang yang mereka kasihi. Kado utama tentunya berupa boneka cinta dengan warna pink dan kado-kado lainnya yang juga didominasi warna pink. Bahkan lebih dari itu, VD menjadi semacam legalitas untuk melakukan seks bebas. Faktanya, saat malam VD penjualan kondom meningkat tajam bahkan beberapa apotek pun kehabisan stok alat kontrasepsi itu.

Tragis, masyarakat Minangkabau yang memiliki sistem nilai yang begitu anggun dan terhormat telah cenderung berubah menjadi masyarakat yang juga latah budaya asing. Penilaian itu memang tidak menyeluruh karena masih ada beberapa kelompok generasi muda yang memiliki upaya untuk menyikapi budaya asing secara cerdas dan kritis. Mereka mungkin akan dipandang aneh dan dianggap sebagai kelompok yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi dalam pengamatan saya, justru mereka merupakan penyelamat wajah Minangkabau yang telah banyak tercoreng.

Saya sadar, akan lahir beragam interpretasi terhadap tulisan ini tetapi itu merupakan hal yang lumrah karena tiap individu mempunyai pola pikir sendiri yang didasasi latar belakang kehidupan, pemahaman ilmu, dan dasar sistem nilai di keluarga masing-masing. Perbedaan tersebut akan menentukan tujuan hidup tiap individu. Hanya dua tujuan hidup manusia yakni tujuan duniawi dan tujuan ukhrawi. Namun demikian pemahaman terhadap kedua tujuan hidup itu hendaknya jangan dilakukan dengan menggunakan pola pikir sempit karena pembagian itu hanya sebagai fokus saja.

Penjelasan sederhananya, Duniawi meliputi pengabaian urusan akhirat tetapi bisa juga tidak mengabaikan tujuan akhirat hanya saja urusan dunia lah yang lebih mendominasi kehidupan golongan ini dengan makna materi. Sementara itu Ukhrawi bukan berarti mengabaikan urusan dunia melainkan selalu menjadikan aktivitas dunia bermakna ibadah. (dmt)

06 Januari 2009

LIMA PRASASTI DI MUSEUM BALAPUTERA DEWA PALEMBANG




Oleh: DM. Thanthar

Prasasti adalah sumber sejarah dari masa lampau yang ditulis pada batu, logam, gerabah, kayu, batubata, porselin, dan lontar. Prasasti disebut sebagai sumber sejarah karena tulisan pada prasasti biasanya memuat informasi tentang berbagai hal, diantaranya ancaman atau sumpah kutukan, ekspensi, dll. Selain itu informasi yang terkandung dalam prasasti merupakan salah satu sumber yang menggambarkan kondisi masyarakat atau kerajaan pada zamannya.

Indonesia memiliki banyak sekali prasasti. Hal itu tidaklah aneh karena Indonesia merupakan daerah kepulauan yang pada masa lampaunya terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Misalnya Kerajan Kutai di pulau Kalimantan, Majapahit di pulau Jawa, Sriwijaya di Sumatera, Ternate dan Tidore di Maluku, dan banyak lagi kerajaan-kerajaan lainnya. Namun demikian tidak semua prasasti dari kerajaan tersebut dapat ditemukan oleh para ahli arkeologi dan ahli historiologi. Kemungkinan secara sederhananya, mungkin tidak semua kerajaan yang pernah ada di Indonesia memiliki prasasti atau para arkeolog dan sejarahwan yang belum berhasil menemukan prasasti-prasasti tersebut. Lainnya, tentu saja kerajaan-kerajaan yang ada setelah manusia mengenal kertas sangat kecil kemungkinan membuat prasasti.

Dari beberapa prasasti yang telah ditemukan oleh para arkeolog dan sejarahwan, diantaranya adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya. Ada lima prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yaitu Prasasti Telaga Batu, Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Kota Kapur, dan Prasasti Boom Baru.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Desa Telaga Batu Kecamatan Ilir Timur Pelembang Sumatera Selatan. Prasasti tersebut tidak memiliki angka tahun tetapi ditulis menggunakan huruf Palawa dengan bahasa Melayu Kuno. Tulisan-tulisan pada Prasasti Telaga Batu terdiri dari 28 baris yang memuat informasi tentang kutukan terhadap siapa saja yang tidak taat kepada pemerintah (raja). Selain itu, juga menjelaskan susunan ketatanegaraan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Desa Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang (anak Sungai Musi), tepatnya di kaki Bukit Seguntang. Prasasti tersebut berangka tahun 605 saka / 683 M. Prasasti Kedukan Bukit ditulis menggunakan huruf Palawa yang berbahasa Melayu Kuno. Terdiri dari 10 baris yang berisi tentang Jaya Siddhayatra (perjalanan suci) penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang. Perjalanan itu merupakan ekspedisi militer Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Talang Tuo ditemukan di Desa Talang Tuo, Palembang. Berangka tahun 606 saka / 684 M dan ditulis menggunakan huruf Palawa yang berbahasa Melayu Kuno. Tulisan prasasti yang terdiri dari 14 baris itu berisikan pernyataan tentang pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Srijayanasa.

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Desa Kota Kapur, Bangka, Sumatera Selatan. Prasasti tersebut berangka tahun 608 saka / 686 M. Prasasti yang juga ditulis menggunakan huruf Palawa dengan bahasa Melayu Kuno itu terdiri dari 10 baris yang memuat informasi tentang sumpah kutukan dan upaya ekspansi ke Pulau Jawa.

Prasasti Boom Baru ditemukan di Desa Boom Baru, Palembang, Sumatera Selatan. Sampai saat ini prasasti yang terdiri dari 11 baris itu masih belum berhasil dibaca sehingga informasi yang terkandung dalam prasasti tersebut belum bisa diketahui.

Jika kita amati, lima prasasti tersebut dinamakan sesuai dengan nama daerah tempat ditemukan. Padahal pada zamannya, saat prasasti itu dibuat, mungkin saja prasasti-prasasti tersebut memiliki sebutan yang berbeda. Akan tetapi, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena rentang waktu (temporal) antara prasasti itu dibuat dengan saat ditemukan sangat panjang sekali.

Lima prasasti tersebut dapat anda temui di Museum Balaputera Dewa Palembang, tepatnya di Gedung Pameran II. Hanya saja yang anda jumpai di Museum Balaputera Dewa itu adalah replikanya saja karena prasasti yang asli berada di Museum Nasional Jakarta.

Demikianlah lima prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang telah ditemukan. Walau belum masih ada prasasti yang belum berhasil dibaca tetapi keberadaan prasasti-prasasti tersebut telah menjadi penguat alasan untuk menjadikan Palembang, sampai saat ini, sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Namun demikian, berbicara mengenai sejarah klasik biasanya selalu memunculkan kemungkinan-kemungkinan sehingga jika ditemukan informasi (fakta) terbaru tentu saja akan mungkin melahirkan kesimpulan yang berbeda atau malah akan makin menguatkan kesimpulan yang terdahulu.(DMT)
***

12 November 2008

LAMBANG KOMUNITAS GUWO

GERAKAN SOSIAL SUATU BENTUK PERLAWANAN




Oleh: Satria Zeni Fernando’’SAEK’’ GUWO



Gerakan sosial merupakan suatu bentuk perlawanan yang dilakukan oleh suatu kelompok atau satu massa untuk mendapatkan suatu perubahan di dalam lingkungan atau di sekitar mereka. Gerakan sosial ini dapat ditimbulkan karena adanya rasa ketidak senangan terhadap hal yang dihadapi. Dalam melakukan aksi gerakan sosial, maka yang terlibat disitu tidak hanya sekumpulan orang saja melainkan ada yang memimpin untuk menggerakkan massa.
Selain dari rasa ketidaksenangan, bisa juga ditimbulkan oleh rasa ketertindasan yang kemudian memunculkan perlawanan. Tindakan ini bertujuan untuk mendapatkan suatu perubahan dari keadaan yang telah dialami oleh kelompok tersebut.
Dalam hal ini dapat diambil contohnya suatu gerakan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dalam menentang keputusan dosen yang mereka anggap tidak sesuai dengan mereka. Tindakan yang mereka lakukan terlebih dahulu bernegosiasi dengan sang dosen untuk mendapatkan hasil yang sama-sama mereka sepakati namun, tindakan ini tidak berhasil malah menimbulkan suatu kebijakan baru bagi diri mahasiswa tersebut.
Merasa tidak senang dengan keputusan tersebut maka mereka mengadukan masalah ini ke jurusan mereka akan tetapi, lagi-lagi gerakan ini menimbulakan suatu kebijakan yang baru yang tetap bertentangan dengan mereka. Kebijakan dosen yang menginginkan permintaan maaf dari mahasiswa secara pribadi yang ditempelkan di fakultas dirasakan tidak sesuai, bahkan konsekuensi yang diberikan terhadap mahasiswa jika tidak membuat permintaan maaf, maka mereka tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kelas perkuliahan yang diajar oleh dosen tersebut.
Hal ini jelas bertentangan bagi mahasiswa itu sendiri. Bagaimana tidak memperoleh pembelajaran dalam perkuliahan merupakan hak yang dimiliki oleh seorang mahasiswa dan merupakan kewajiban bagi sang dosen untuk memberikannya. Selain itu permintaan maaf yang disyaratkan hanya akan menimbulakan suatu pertanyaan baru dikalangan masyarakat kampus yang lain. Mereka pasti akan mempertanyakan apa yang melatarbelakangi pamflet tersebut, bagaimana sih si dosen tersebut mengajar sehingga para mahasiswanya bisa melakukan hal yang tidak diinginkan terjadi. Serta yang paling penting adalah permintaan maaf secara pribadi jauh lebih baik dibandingkan dengan permintaan maaf melalui selebaran.
Suatu gerakan tidak akan terjadi jika tidak ada yang memprofokasi dan merasa diprofokasi. Begitu juga hal nya dengan gerakan sosial, hal ini bertujuan untuk lebih menghangatkan emosi massa dalam bergerak untuk melakukan suatu perubahan tersebut.profokasi ini bertujuan untuk memecah belah kelompok tersebut yang pada akhirnya gerakan sosial ini akan berujung kepada suatu ketidakberhasilan, kaerena kelompok tersebut telah terpecah belah. Profokasi ini terjadi diantara kedua belah pihak, yang pada akhirnya akan menimbulkan keraguan dari diri pribadi anggota kelompok gerakan tersebut dan mereka cenderung memilih hal yang tidak akan mempersulit mereka lagi.

29 September 2008

Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995


Judul Buku : Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995
Pengarang : Mestika Zed, dkk
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1998
Jumlah Halaman : xiii+406 hlm
ISBN : 979-416-559-X


Resensi Rq_Gie

Buku ini mengetengahkan upaya untuk merekonstruksi garis-garis perkembangan sejarah yang secara langsung atau pun tidak langsung telah mempengartuhi perjalanan sejarah daerah Sumatera Barat. Status penulisnya sebagai salah seorang sejarawan sangat mempengaruhi pemaparan yang terdapat dalam buku ini. Hasilnya, tentu saja buku ini sangat kental nuansa sejarahnya.

Mestika Zed membagi isi buku ini dalam lima bagian. Bagian pertama mengetengahkan suasana proklamasi dan revolusi di Sumatera Barat. Bagian pertama tersebut mencakup batasan temporal 1945-1950, merupakan episode sejarah yang memadukan antara perjuangan secara fisik dan perjuangan secara diplomatis, memadukan tujuan yang rasional dengan sentimen emosional, memadukan tindakan kongkrit dengan dengan cita-cita dan impian, serta memadukan realitas dengan mitos. Revolusi di Sumatera Barat adalah sebuah gejala yang sangat kompleks. Para pemimpin daerah cenderung selalu lebih siap dalam menentukan kebijakannya, sehingga banyak tokoh-tokoh dari Sumatera Barat yang tampil sebagai elit terkemuka dalam lingkaran kepemimpinan nasional saat itu.

Bagian kedua buku ini membahas mengenai kondisi dan suasana Sumatera Barat setelah revolusi, cakupan temporalnya adalah 1950-1960. Bagian kedua merupakan bagian yang tidak pernah lepas ketika menuturkan sejarah Sumatera Barat. Salah satu peristiwa penting yang terdapat dalam periode ini adalah munculnya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berlangsung selama tiga tahun, yaitu dari tahun 1958 hingga tahun 1961. Ditengah upaya untuk menegakkan demokrasi sebagai inti dari kemerdekaan, lahir kebijakan pemerintah pusat yang melahirkan rasa tidak puas di daerah. Salah satu daerah yang merasa kurang puas tersebut adalah Sumatera Barat. Kebijakan pusat untuk melakukan perombakan yang drastis terhadap Divisi IX Banteng yang berada di Sumatera dan mempertahankan Divisi Siliwangi di Jawa secara nyata memperlihatkan ketimpangan dan sekaligus tidak menghargai para pejuang Divisi IX Banteng yang juga ikut mati-matian mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kontak senjata atau penumpasan yang akhirnya menjadi kebijakan pemerintah pusat untuk meredam PRRI sebenarnya sangat sesuai dengan dugaan masyarakat Sumatera Barat yang sangat mengharapkan terjadinya musyawarah. Era PRRI telah meninggalkan sebentuk trauma kolektif bagi masyarakat Sumatera Barat.

Bagian ketiga menjelaskan kondisi Sumatera Barat pasca PRRI, berkisar antara tahun 1961-1965. Pada bagian ini Mestika Zed mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya PRRI mental masyarakat Sumatera Barat menjadi terpuruk dalam status “pemberontak” yang kalah. Akibatnya, kepercayaan diri masyarakat Sumatera Barat mulai memudar. Kebanggaan yang masih kental sampai masa-masa revolusi menjadi luluh. Kondisi pada masa pasca PRRI yang serba sulit dipersulit lagi dengan makin meluasnya pengaruh PKI di Sumatera Barat.

Bagian keempat dari buku ini lebih difokuskan dalam batasan temporal 1966-1971. Batasan temporal tersebut merupakan transisi dari Orde Lama kepada Orde Baru. Pada masa ini, di Sumatera Barat, terjadi suasana yang kritis dalam masalah politik dan pemerintahan. Periode ini pulalah yang merupakan periode pemulihan kondisi daerah dan juga pemulihan mentalitas masyarakat Sumatera Barat yang merosot akibat peristiwa PRRI. Pemerintah Sumatera Barat benar-benar memfokuskan upaya untuk mengembalikan harga diri orang Minangkabau.

Bagian kelima berisikan pembahasan tentang kondisi masyarakat Sumatera Barat antara tahun 1971-1995. Pada periode ini kondisi masyarakat Sumatera Barat sudah membaik. Periode ini merupakan periode yang relatif tenang.

*****

Hegemoni Politik Pusat dan Kemandirian Etnik di Daerah; Kepemimpinan Sumatra Barat di Masa Orde Baru


Judul Buku : Hegemoni Politik Pusat dan Kemandirian Etnik di Daerah; Kepemimpinan Sumatera Barat di Masa Orde Baru
Pengarang : Irhash A. Shamad
Penerbit : IAIN-IB Press
Tempat Terbit : Padang
Tahun Terbit : 2001
Tebal Buku : xiii + 151 hlm


Resensi Doebalang


Peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru awalnya menjadi harapan untuk pemulihan daerah dari kerusakan-kerusakan internal yang terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya (Orde Lama). Daerah yang merasa tujuan yang diusung oleh Orde Baru sejalan dengan tujuan mereka serta merta ikut berpartisipasi untuk menumbangkan Orde Lama. Bagi Sumatera Barat, peralihan tersebut sangat diharapkan menjadi kekuatan baru dalam upaya pemulihan harga diri dan identitas etnik daerah yang telah diobrak-abrik rezim Orde Lama.

Kepemimpinan Harun Zein (1967-1977) merupakan periode pemulihan sosial, ekonomi, dan politik Sumatera Barat yang hancur akibat PRRI. Hanya saja pada akhir tahun 70-an, setelah pemerintah pusat memperoleh legitimasi pada pemilu pertama, mulai terlihat tedensi-tedensi intervensi pemerintah pusat terhadap daerah. Tedensi itu makin menguat setelah dilaksanakannya pemilu tahun 1977.

Diberlakukannya UU No.5 Tahun 1979, tentang pemerintahan desa, merupakan upaya penyeragaman sistem pemerintah di masa Orde Baru. Namun demikian, pelaksanaan UU No.5 Tahun 1979 tersebut lebih dirasakan sebagai upaya detradisionalisasi di tingkat lokal. Di Sumatera Barat, undang-undang tersebut diberlakukan pada tahun 1983. Penerapan sistem pemerintahan yang baru tersebut telah menimbulkan berbagai implikasi, dan sangat berdampak kepada terpinggirkannya kepemimpinan nagari. Secara mendasar dan drastis UU No.5 Tahun 1979 telah merombak tatanan sosial tradisional yang telah berkembang sejak lama. Hak-hak preogratif dari kepemimpinan adat dalam struktur kepemimpinan nagari (Niniak Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai) yang selama ini berakar dalam tradisi kultural menjadi terpinggirkan oleh penerapan sistem pemerintahan formal secara efektif sampai tingkat bawah.

Berbagai keganjilan terjadi dalam proses peralihan pemerintahan nagari kepada pemerintahan desa. Keganjilan terjadi dalam masalah keamanan nagari, aspek peradilan, masalah matrimoni, urbanisasi, bahkan sampai pada aspek ketahanan ekonomi masyarakat itu sendiri. Sistem kepemimpinan ideal yang demokratis dan dan telah diterapkan pada kepemimpinan nagari yang bersifat bottom-up secara pasti berubah kepada sistem kepemimpinan yang berorientasi pada sifat top-down. Akibatnya, penyangga kelestarian budaya lokal menjadi runtuh dan sekaligus berakibat pula terhadap rusaknya berbagai sistem internal daerah.

Intervensi politik pemerintah pusat telah memperlihatkan kecendrungan negatif dari model hegemoni pemerintahan pusat atas daerah. Kondisi itu telah memperlemah resistensi kebudayaan lokal. Anehnya, sistem tersebut dijalankan melalui tangan pemimpin regional itu sendiri tanpa adanya kemampuan, atau mungkin juga tanpa adanya kemauan, untuk melindungi identitas, kepentingan, dan kemandirian etnik.

Perubahan prilaku politik kepemimpinan daerah yang terjadi setelah penerapan UU No.5 Tahun 1979 dapat dikatakan sebagai penyebab lain timbulnya kerusakan sistem internal. Walaupun, pada dasarnya, perubahan prilaku itu adalah akibat dari melemahnya sistem internal yang ada di daerah. Artinya, kondisi tersebut telah memperlihatkan bahwa keadaan itu merupakan hubungan sebab akibat. Irhash menjelaskan bahwa simpul dari permasalahan itu sangat mungkin berada pada faktor budaya politik, khususnya prilaku politik elit daerah.

Untuk lebih tegasnya Irhash menyatakan bahwa ada dua macam penyebab terjadinya kerusakan sistem internal dan nilai-nilai sosial masyarakat di daerah. Pertama, model hegemoni sistem politik pusat yang terlalu kuat terhadap daerah sehingga tidak tersedia ruang gerak bagi kreatifitas lokal untuk menjaga kemandirian etnik mereka. Kedua, faktor komitmen elit kepemimpinan daerah dalam menyatukan peran fungsional sebagai wakil pemerintahan pusat di daerah, dengan peran moralnya sebagai bagian dari sistem internal itu sendiri.

Pemaparan yang dilakukan oleh Irhash dalam buku ini menggunakan bahasa yang agak tinggi. Dengan kata lain Irhash cukup banyak menggunakan istilah-istilah asing sehingga buku ini lebih cocok dikomsumsi oleh kalangan terpelajar.

*****

G 30 S; Antara Fakta dan Rekayasa


Judul Buku : G 30 S; Antara Fakta dan Rekayasa
Pengarang : Center for Information Analysis
Penerbit : Media Pressindo
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 1999
Jumlah Halaman : x + 142 hlm
ISBN : 979-9222-17-6

Resensi Erix Guwo

Rezim Orde Baru dicurigai telah melakukan rekayasa historiografi (penulisan sejarah) secara sistematik. Jika itu benar, maka tujuannya sangat jelas adalah untuk memperkokoh dan melanggengkan hegemoni kekuasaan, yakni pemerintahan yang didominasi oleh militer serta kondisi politik yang represif yang diselubungi oleh terminologi stabilitas. Salah satunya tema historiografi yang sangat dicurigai telah direkayasa oleh Orde Baru dan menjadi tema yang kontroversial adalah tema mengenai Gerakan 30 September 1965 (G30S 1965).

Berbagai pernyataan terhadap G30S 1965 yang diungkapkan, akhir-akhir ini, oleh beberapa pelaku gerakan telah menimbulkan dugaan-dugaan baru di tengah-tengah masyarakat. Selama era Orde Baru masyarakat selalu disuguhkan sebuah tayangan (film) tentang bagaimana G30S itu terjadi, tentunya sesuai dengan versi dan kepentingan Orde Baru. Kesaksian para pelaku gerakan pada masa Orde Baru yang terbungkam, atau mungkin juga sengaja dibungkam, kini terbuka dan bersuara. Akan tetapi, berbagai kesaksian itu masih belum bisa menentukan dengan akurat siapa dalang dari peristiwa tragedi kemanusiaan tersebut.

Informasi mengenai G30S yang disebarkan kepada masyarakat selama Orde Baru ternyata banyak yang bertentangan dengan kesaksian para pelaku gerakan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa gerakan tersebut adalah rancangan dari Soeharto yang nantinya menjadi penguasa Orde Baru. Buku ini memang membahas permasalahan seputar G30S, tetapi tidak memberikan kesimpulan yang tegas mengenai dalang G30S 1965. Memang tujuannya adalah untuk memaparkan berbagai fakta yang ada, sehingga pembaca bisa memahami permasalahan G30S secara lebih luas.

Banyak fakta objektif yang bersifat mutlak dan tidak bisa dipungkiri, antara lain keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI), ambiguitas Ir.Soekarno, intrik dalam tubuh militer Indonesia khususnya Angkatan Darat (AD), serta kedekatan hubungan personal antara beberapa pelaku utama G30S dengan Mayjend Soeharto yang pada waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad/Pangkopkamtib.

Menurut buku ini ada enam teori atau versi yang berkembang dalam penulisan tentang G30S atau Gerakan Satu Oktober (Gestok), yaitu:

1. Pelaku utama G30S adalah PKI dan Biro Khusus
Versi ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah Orde Baru. Sejarawan Indonesia yang menulis dengan versi ini adalah Nugroho Notosutanto dan Ismail Saleh. Karyanya berjudul: Percobaan Kup Gerakan 30 September di Indonesia (terbitan Jakarta, 1968).

2. G30S adalah persoalan internal AD
Versi ini ditulis oleh M.R. Siregar dalam karyanya yang berjudul: Tragedi Manusia dan Kemanusiaan, Kasus Indonesia, Sebuah Holokaus Yang Diterima Sesudah Perang Dunia Kedua (terbitan Amsterdam, 1993). Penulis lain yang juga mengusung versi ini adalah Coen Holtsappel, Cornell Paper, Ben Anderson, W.F. Wertheim, dan Wimandjaja K. Litohoe. Tekanan versi ini lebih mengarah pada sintesis bahwa G30S merupakan kudeta yang dirancang oleh klik Angkatan Darat di bawah pimpinan Mayjend Soeharto.

3. G30S digerakan oleh CIA
Pernganut versi ini beranggapan bahwa dalang utama terjadinya G30S adalah CIA yang bekerja sama dengan klik Angkatan Darat untuk memprovokasi PKI dengan tujuan menggulingkan Presiden Soekarno. Pendukung versi ini adalah Peter Dale Scoot dengan karyanya yang berjudul: US and The Overthrow of Soekarno 1965/1967, dan Geoffrey Robinson dengan karyanya yang berjudul: Some Arguments Concerning US Influence and Complicity In The Indonesia Coop of Oktober 1965.

4. G30S terjadi karena bertemunya kepentingan Inggris dan Amerika
Greg Poulgrain merupakan penulis yang mempercayai asumsi ini. Ia membahasnya dalam karyanya yang berjudul: The Genesis of Confrontation: Malaysia, Brunai, and Indonesia 1945-1965

5. Soekarno Dalang G30S
Versi ini merupakan versi yang paling kontroversial. Versi ini menjelaskan bahwa Soekarno sangat berkepentingan untuk melenyapkan sikap oposisi beberapa perwira tinggi Angkatan Darat terhadap kepemimpinannya. PKI ikut terseret karen akedekatannya dengan Soekarno. Penulis yang mengusung versi ini adalah Antonie Dake dengan karyanya yang berjudul: In The Spirit of The Red Banteng, The Devious Dalang: Soekarno and So-called Untung Putsch. John Hughes dengan karyanya yang berjudul: Indonesia Upheavial 1967 dan The End of Soekarno 1968. Penulis lainnya yang menganut versi ini adalah Ulf Sundhaussen dengan karyanya yang berjudul: Politik Militer Indonesia 1945-1967; Menuju Dwi Fungsi ABRI.

6. Teori Chaos
Tidak ada dalang tunggal, tidak ada grand scenario, yang terjadi adalah bercampur aduknya improvisasi berbagai kepentingan di lapangan, ketika gerakan sudah dimulai. Penulis yang mendukung versi ini adalah Manai Shopiaan dengan bukunya yang berjudul: Kehormatan Bagi Yang Berhak, Oei Tjoe Tat dengan bukunya yang berjudul: Memoar Oei Tjoe Tat, John D. Legge dengan karyanya yang berjudul: Soekarno; Sebuah Biografi Politik. Inti dari versi ini adalah G30S merupakan kombinasi antara unsur-unsur Nekolim atau negara barat, sikap ambisius para pemimpin PKI, dan penyimpangan tugas dan wewenang dalam tubuh TNI.

Berbohong Demi Perang


Judul Buku : Berbohong Demi Perang
Pengarang : Elba Damhuri
Penerbit : Senayan Abadi Publishing
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Jumlah Halaman : 280 hlm


Resensi St.KariMudo


Tanggal 20 Maret 2004 merupakan pengulangan atau sebagai pengingat memori kita tentang serangan yang dilakukan Amerika dan sekutunya terhadap Irak. Maret 2004 tersebut merupakan sebuah episode manis bagi Amerika untuk dapat menguasai Irak dengan menggunakan kedok (baca: fitnah) bahwa Irak memiliki senjata penghancur massal yang dalam tempo 45 menit dapat memusnahkan semua manusia yang ada di Bumi.

Dalam bukunya ini Elba Damhuri memaparkan ambisi Amerika, terutama orang Yahudi yang sangat berperan dalam upaya penyerangan Irak. Alasan-alasan Amerika (Yahudi dan Zionis) diulas oleh Elba dengan bahasa yang lugas dan enak sehingga akan dapat dipahami alasan utama mengapa Amerika begitu berambisi untuk menaklukkan Irak.

Buku ini memuat dua puluh tiga fakta tentang invasi yang dilakukan Amerika terhadap Irak. Isu utama yang dilontarkan oleh Amerika, sebagai tuduhan kepada Irak dan sebagai landasannya untuk menyerang Irak, bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Dalam setiap penjelasannya pada media massa, pada negara lain, dan pada badan tertinggi dunia yaitu PBB isu senjata pemusnah massal itulah yang selalu ditekankan.

Alasan lain yang dijadikan tameng oleh Amerika dan sekutu-sekutunya saat menyerang Irak antara lain tuduhan bahwa Irak telah membantu Al-Qaeda dan membuka organisasi yang terkait dengan Usamah Bin Ladin. Hal itu terkait juga dengan peristiwa 9 September 2001, yaitu hancurnya WTC dan adanya upaya untuk menyerang Pentagon, dan tanpa bukti Al-Qaeda menjadi tertuduh. Menurut Amerika, bahwa Saddam Hussein telah membantu Al-Qaeda dalam setiap gerakannya. Padahal Usamah Bin Ladin dengan tegas telah menyatakan bahwa ia dan organisasinya (Al-Qaeda) tidak terlibat sedikitpun dengan hancurnya WTC .

Berdasarkan bukti-bukti yang ada Elba menjelaskan bahwa invasi Amerika ke Irak sesungguhnya telah direncanakan sejak lama oleh Pemerintah Amerika (G.W. Bush). Invasi Irak merupakan salah satu langkah Amerika untuk bisa menguasai negara-negara timur tengah. Irak menjadi pilihan utama karena Amerika beranggapan bahwa daerah Irak merupakan daerah yang strategis untuk dapat menggarisi mobilitas orang Asia terutama umat islam.

Selain itu kepentingan ekonomi dan politik juga tidak bisa diabaikan. Amerika beserta tokoh-tokohnya sangat menyadari bahwa sebagian besar aset perekonomian dunia berada di Asia, termasuk daerah timur tengah. Apalagi negara-negara timur tengah merupakan produsen terbesar minyak dunia yang akan diekspor ke seluruh dunia termasuk Amerika.

Irak dengan statusnya sebagai negara pengahasil minyak terbesar kedua merupakan tempat strategis bagi Amerika untuk dapat menguasai perekonomian dunia. Elba juga menjelaskan bahwa penyerangan Amerika terhadap Irak pada dasarnya memiliki misi besar. Semua itu dibahas Elba dengan lugas dan tajam dengan menyuguhkan fakta kepada pembacanya, sehingga pembaca dapat memahami tujuan utama diterbitkannya buku ini.
Sisi menarik dari buku ini adalah penulisnya memberikan keterangan secara lugas berdasarkan apa yang diberitakan oleh media massa. Artinya, yang menjadi sumber pembahasn adalah hasil liputan langsung dari tempat kejadian. Hal itu sangat dimungkinkan karena profesi penulisnya adalah sebagai wartawan Republika.

Berbohong Demi Perang, yang dipilih sebagai judul buku ini, dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari buku yang berjudul: Dibalik Invasi AS ke Irak, yang diterbitkan pada Maret 2003.Buku ini dibagi Elba menjadi empat bagian. Bagian pertama berisi tentang keterkaitan dan peran Israel dalam upaya invasi. Bagian ini juga menjelaskan bahwa betapa mudahnya Amerika mengangkangi badan tertinggi dunia alias PBB. Penentangan negara-negara dunia terhadap keinginan G.W.Bush dan Tonny Blair untuk menginvasi Irak tidak begitu memberikan pengaruh. Bagian ini juga menguak kebohongan-kebohongan Amerika dalam argumen mereka tentang Irak.

Bagian kedua menghadirkan David Kelly sebagai sumber kunci untuk menguak semua kebohongan Amerika. Pernyataan David Kelly tersebut ditayangkan oleh BBC, selaku media televisi perintis yang membuka kedok kebohongan Amerika. Kebohongan Amerika sangat terlihat dengan adanya sumber yang berasal dari laporan-laporan dari reporter BBC antara lain: Andrea Gilian, Gavin Hewitt, dan Susan Watts.

Bagian ketiga memberikan penjelasan mengenai kemungkinan bahwa penyerangan terhadap Irak sepertinya merupakan kebijakan yang berasal dari ketakutan Pemerintah Amerika pasca peristiwa 9 September 2001. Pembahasan tentang ambisi Amerika untuk menguasai dunia juga dapat dibaca dalam bagian ketiga.

Bagian keempat lebih mengarah kepada pembahasan tentang kepercayaan yang sangat mungkin mendasari terjadinya invasi Irak. Pembahasan tentang ajaran dari kaum Neokonservatif (Yahudi Hawiksh) terdapat dalam bagian ini. Pada dasarnya ajaran Neokonservatif sangat menayakini bahwa keberadaan mereka di bumi karena diutus oleh tuhan untuk menguasai dunia.

*****

23 September 2008

SENI DALAM RELIGI DAN PENGOBATAN



Oleh: Ana Fatda

Seni merupakan sesuatu yang terdapat di dalam diri manusia, yang telah ada semenjak manusia itu lahir. Akan tetapi, tidak semua manusia dapat “mengerti” akan seni itu sendiri. Sebagian orang yang “mengerti” akan seni tersebut mereka dapatkan secara alami, maksud nya mereka memperoleh pengetahuan seni tersebut bukan dari pendidikan melainkan mereka gali secara otodidak melalui potensi seni yang telah ada di dalam diri mereka. Selain itu ada juga yang “mengerti” akan seni tersebut melalui pendidikan yang bergelut dalam bidang seni.

Menelaah ke zaman dahulu, seni sangat erat kaitannya dengan sistem religi dan pengobatan. Masyarakat zaman dahulu menggunakan seni sebagai media pengobatan yang dikaitkan dengan sistem religi. Mereka menganggap seni dapat dipergunakan sebagai media untuk berhubungan dengan alam gaib (baik itu hubungan dengan roh nenek moyang ataupun dengan Tuhan). Pencerminan seni dan religi ini dapat berupa dalam bentuk tari-tarian ataupun nyanyian sebagai penggambaran keinginan yang mereka harapkan dari dunia gaib tersebut. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan secara bersama-sama dengan tata cara yang telah ada di dalam kelompok. Ritual ini biasanya dipimpin oleh sesorang yang biasa disebut sebagai dukun, yang memiliki kedudukan penting di dalam kelompok tersebut, biasanya yang memiliki kepandaian ini merupakan “primus interpares”.

Selain dengan religi, seni juga dapat dijadikan sebagai media pengobatan. Dimana proses ini masih sangat erat kaitannya dengan sistem religi. Dengan menggunakan keahlian sang dukun tadi maka pengobatan dapat dilakukan, yakninya dengan menggunakan tari-tarian dan nyanyian sebagai media untuk mengobati penyakit yang diderita oleh seseorang.

Seiring dengan perkembangan zaman maka dunia pengobatan pun secara perlahan-lahan telah mengalami modernisasi di dalam bidangnya. Dimana biasanya masyarakat hanya menggunakan pengobatan tradisional untuk berobat, secara perlahan beralih kepada pengobatan dengan menggunakan alat-alat modern dan canggih. Melihat perkembangan ini maka tak ayal lagi pengobatan tradisional secara perlahan-lahan mulai redup kemudian tenggelam.

Namun, ditengah gejolak perkembangan dunia pengobatan yang modern tersebut, ternyata masih terdapat pengobatan trasdisional yang menggabungkan antara unsur seni, religi dan pengobatan walaupun hal ini tidak terlalu muncul kepermukaan atau ke masyarakat. Pengobatan tersebut adalah Anak Balam atau yang biasa juga disebut dengan Bundo-bundo atau Bujang Gara, Akuan dan Daun Bira. Cara pengobatan ini terdapat di daerah Surantih Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Ketiga pengobatan ini menggunakan seni dan sistem religi sebagai medianya.

Tradisi Anak Balam ini dapat dikatakan unik dari masyarakat Surantih, dikarenakan tradisi ini tidak begitu menonjol kepermukaan, hanya banyak diketahui oleh masyarakat setempat saja dan hanya ditemukan di Surantih. Anak Balam merupakan pengobatan secara tradisional khas Nagari Surantih yang menggabungkan unsur mistik didalam pengobatan tersebut.

Anak Balam atau sering juga disebut masyarakat setempat dengan nama Bundo-bundo maupun Bujang Gara berawal dari cara pengobatan dengan menggunakan dendang yang disebut dengan babancang. Pengobatan ini dipadukan dengan kemampuan olah batin yang dimiliki oleh khalifa atau yang disebut juga dengan pituanan, merupakan sebutan bagi orang yang melakukan pengobatan Anak Balam. Dalam melaksanakan pengobatan ini dilakukan teknis menyerikati atau menggabungkan tubuh kasa (fisik) dengan tubuh aluih (roh), dalam Anak Balam roh disebut dengan dewa.

Tata cara pengobatan ini sang pasien terlebih dahulu akan ditidurkan, kemudian khalifa mulai memanggil dewa yang berasal dari gunung dengan cara berdendang. Dewa ini kemudian akan masuk kedalam tubuh si pesakit, setelah dewa masuk kedalam tubuh maka si pesakit dengan tidak sadar akan segera bertingkah seperti orang kesurupan, yang semula tidak bisa bergerak menjadi dapat bergerak dengan mudahnya bahkan ada yang sampai lari dari ruangan tempat pengobatan dilakukan. Sewaktu kesurupan inilah si pesakit akan mengeluarkan keluh-kesah yang ia rasakan terhadap penyakit yang dideritanya. Pengobatan ini biasanya dilakukan pada malam hari dan bisa berakhir hingga pagi hari. Dalam perkembangannya Anak Balam saat ini bukan saja sekedar dendang pengobatan biasa akan tetapi lirik atau syair dendangnya telah diolah dan dimainkan dalam rabab.

Akuan hampir sama dengan Anak Balam, sama-sama memakai media mistik sebagai cara pengobatan penyakit. Akan tetapi, terdapat perbedaaan yang mencolok dari kedua pengobatan tradisional ini. Dalam Anak Balam si pesakit langsung diobati dan berada satu ruangan dengan khalifa (orang yang bisa mengobati melalui cara Anak Balam), sedangkan dalam Akuan, memang untuk pengobatan pertama si pesakit berhadapan langsung dengan yang mengobati akan tetapi, untuk tahapan selanjutnya roh yang dikirim untuk mengobati si pesakit akan langsung mengobati si pesakit ketempat dimana ia berada, artinya untuk tahapan pengobatan selanjutnya si pesakit tidak perlu lagi harus bertatapan langsung dengan orang yang mengobati (melalui jarak jauh).

Daun Bira, juga merupakan teknik pengobatan dengan menggunakan unsur magis dan jarak jauh. Perbedaaan pengobatan ini dengan Anak Balam dan Akuan adalah, pada pengobatan ini menggunakan daun sebagai medianya untuk mengobati si pesakit. Bagian daun dianggap sebagai tubuh si pesakit kemudian secara perlahan-lahan bagian yang sakit yang diumpamakan pada daun tadi diurut secara perlahan-lahan.

Dengan perkembangan yang telah ada saat ini secara perlahan-lahan pengobatan tradisional ini mulai hilang, bahkan orang yang ahli dalam pengobatan ini saat sekarang sudah jarang ditemui. Perkembangan zaman tak seharusnya menghilangkan budaya khas yang telah ada dalam suatu masyarakat, akan tetapi dapat menjadi suatu simbol bagi ciri khas masyarakat tersebut.

20 Agustus 2008

Objek-objek Wisata Di Maninjau












Oleh: M. Reza

Jika anda berkunjung ke Maninjau maka anda dapat mengunjungi beragam objek wisata. Objek wisata di Maninjau pada dasarnya terbagi dalam tiga jenis yaitu objek Wisata Alam, objek Wisata Sejarah dan Budaya, dan objek Wisata Minat Khusus. Di antara tiga jenis objek wisata tersebut, objek wisata alam merupakan objek wisata yang paling dominan dikunjungi oleh para wisatawan. Namun demikian, keberadaan objek wisata sejarah dan budaya serta objek wisata minat khusus juga sangat menunjang perkembangan pariwisata di Maninjau.

A. Objek Wisata Alam
Adapun bentuk objek wisata alam adalah berupa keindahan alam yang sangat alami, dengan adanya perbukitan dan pegunungan, air terjun, pemandian, dan panorama danau. Objek wisata alam yang terdapat di Maninjau terdiri dari:

a. Taman Wisata Muko-Muko
Muko-Muko adalah kawasan yang berlokasi di tepian Danau Maninjau berdekatan dengan PLTA. Tempat ini menyajikan pesona tersendiri karena didukung oleh beberapa fasilitas seperti taman rekreasi, tempat ibadah, arena bermain anak dan Pulau Legenda. Taman wisata muko-muko muncul dan berkembang sebagai dampak dari pembangunan PLTA Maninjau.

b. Aia Tigo Raso
Aia Tigo Raso atau air tiga rasa adalah salah satu objek wisata yang unik yang ada di Kabupeten Agam. Disebut unik karena dalam satu kolam terdapat tiga rasa air, yaitu manis, asam, dan pahit. Keunikan air tersebut menyebabkan banyak wisatawan yang mendatangi objek wisata ini. Air ini juga dipercayai dapat menyembuhkan penyakit kulit dan dapat membuat orang awet muda.

c. Agrowisata Kelok 44
Kelok 44 merupakan wisata alam yang menarik untuk dinikmati karena selama menempuh jalan yang berkelok-kelok tersebut wisatawan dapat menikmati pemandangan Danau Maninjau dari tempat ketinggian. Selain itu, di kelok 44 juga terdapat kera-kera jinak yang berkeliaran di sepanjang jalan. Kelok 44 dimulai di kelok 1 dari Danau Maninjau menuju Bukittinggi.

d. Air Terjun Gadih Ranti
Air terjun Gadih Ranti terletak 1,6 Km dari jalan raya Lubuk Basung-Maninjau dan berdekatan dengan bendungan irigasi Batang Antokan. Secara rinci akses menuju lokasi air terjun ini melalui jalan Lubuk Sao-Arikia. Sepanjang 600 meter menuju lokasi masih berupa jalan setapak sehingga memberikan kesan alami kepada para wisatawan yang mengunjunginya. Saat ini telah terdapat gazebo di lokasi wisata air terjun yang terdiri dari beberapa tingkat ini.

e. Pemandian Gadih Ranti
Pemandian Gadih Ranti berada di atas Air Terjun Gadih Ranti. Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat setempat menyatakan bahwa pada masa dahulunya ada seorang gadis yang bernama Gadih Ranti yang selalu menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pemandiannya. Gadih Ranti merupakan seorang gadis yang memiliki perawakan rupawan dan berambut panjang. Jika dilihat sekilas, pemandian ini mengandung misteri tersendiri karena kolam pemandian tersebut terbuat dari batu alam yang besar.

Seakan-akan batu alam yang besar tersebut sengaja dipahat menjadi wadah untuk menampung air untuk mandi dan berendam. Namun demikian, objek wisata ini tetap menjadi daya tarik karena airnya yang bersih ditunjang oleh keberadaannya dilokasi yang terlindung dan berhawa sejuk.

f. Danau Maninjau
Danau Maninjau terletak kabupaten Agam sekitar 140 km utara Padang dan 38 km barat Bukittinggi. Danau yang muncul akibat letusan Gunung Merapi ini memiliki kedalaman mencapai 495 meter dan terletak di ketinggian 461.5 meter dpl. Luas danau yang mencapai 99.5 km persegi telah mencatat danau ini sebagai danau terluas ke-2 di Sumatra Barat setelah Danau Singkarak dan danau terluas ke-11 di Indonesia.
Orang Minangkabau, khususnya orang Maninjau mempercayai legenda di balik terbentuknya danau, yaitu “Bujang Sembilan”, seperti yang telah dideskripsikan pada halaman sebelumnya. Maninjau banyak melahirkan tokoh antara lain Buya Hamka dan Rangkayo Rasuna Said (1910-1965). Mendengar nama Rasuna Said, anda pasti ingat nama jalan HR. Rasuna Said yang terdapat di kuningan. Ternyata, nama tersebut memang mengarah kepada orang yang sama karena HR adalah kepanjangan dari Hajjah Rangkayo.

Danau Maninjau merupakan objek wisata yang paling dominan di Maninjau. Danau ini memiliki panjang 16 km dan lebar 8 km. Danau Maninjau dikelilingi oleh perbukitan sehingga jika diperhatikan secara saksama maka akan terlihat seolah-olah danau tersebut berada dalam sebuah lingkaran. Hal ini seakan-akan membenarkan cerita yang terdapat dalam kisah Bujang Sambilan bahwa Danau Maninjau berasal dari kawah gunung berapi yang bernama Gunung Tinjau. Danau Maninjau memiliki keindahan yang khas. Keindahan danau ini tidak saja dapat dilihat dari dekat tetapi juga bisa disaksikan dari ketinggian Puncak Lawang, Ambun Pagi, dan Kelok 44.

g. Aia Angek Gasang
Aia Angek Gasang terletak di Jorong Gasang Kenagarian Maninjau. Objek wisata ini juga merupakan salah satu objek wisata yang unik karena jarak antara kolam pemandian air hangat ini dengan Danau Maninjau tidak begitu jauh tetapi airnya tetap hangat. Tingkat kehangatan Aia Angek Gasang tidaklah sehangat air yang ada di pemandian air hangat Solok, juga tidak lah sepanas air hangat di pemandian air hangat Pariangan tetapi mata air ini tetap memancarkan air yang kehangatannya sangat cocok untuk berendam.

h. Taman Wisata Linggai
Taman Wisata Linggai pernah dikelola dengan baik, yaitu dengan membangun beberapa gazebo, sejenis dangau untuk beristirahat bagi para wisatawan. Namun demikian, perawatan yang sangat kurang mengakibatkan bangunan-bangunan yang sudah ada tersebut mengalami kerusakan. Taman Wisata Linggai merupakan taman wisata yang dikembangkan di salah satu teluk Danau Maninjau. Lokasinya sebenarnya sangat bagus untuk dikembangkan sebagai tempat taman rekreasi air karena tepian danau di daerah ini cukup landai dengan teluknya yang indah. Saat ini kondisi objek wisata ini kurang terawat dan teluk tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat pembudidayaan ikan air tawar dengan sistem jala terapung atau karamba.

B. Objek Wisata Sejarah dan Budaya
Selain menikmati objek wisata alam anda juga dapat mengunjungi objek wisata sejarah dan budaya meliputi wujud benda-benda bukti sejarah yang tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud). Objek wisata sejarah dan budaya yang terdapat di Maninjau terdiri dari:

a. Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA
Buya HAMKA lahir di Sungai Batang. Rumah tempat kelahirannya saat ini difungsikan sebagai Museum HAMKA. Museum HAMKA memiliki koleksi berbagai buku karya Buya HAMKA, foto-foto, beberapa tongkat dan baju yang pernah digunakan Buya HAMKA semasa hidupnya. Penggunaan Museum HAMKA diresmikan pada tanggal 11 November 2001. Tujuan dari pendirian Museum tersebut adalah agar HAMKA tetap dikenal dan diteladani oleh generasi muda, khususnya generasi muda di Maninjau. Museum HAMKA merupakan salah satu tempat yang cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

b. Makam Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul)
Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Safar 1296 Hijriah yang bertepatan dengan 9 Februari 1879 Masehi. Beliau adalah ayah dari Buya HAMKA. Wafat di Jakarta pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1364 Hijriah atau 3 Juni 1943 Masehi. Pada mulanya beliau dimakamkan di Jakarta namun kemudian dipindahkan ke Maninjau. Disisi makamnya dimakamkan adiknya yang bernama H. Yusuf Amrullah. Yusuf Amrullah lahir pada tanggal 25 April 1889 dan wafat pada tanggal 19 Oktober 1972. Pada saat ini komplek makam dilengkapi dengan perpustakaan yang diberi nama Perpustakaan Inyiak Rasul.

c. Perpustakaan Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul)
Perpustakaan Inyiak Rasul awalnya adalah rumah tempat Inyiak Rasul lahir dan dibesarkan. Rumah ini juga merupakan tempat Inyiak Rasul melahirkan beberapa tulisan. Perpustakaan memiliki dua buah lemari yang berisi berbagai macam hasil karya Inyiak Rasul. Di depan perpustakaan terdapat komplek makam Inyiak Rasul.

d. Surau Buya HAMKA
Surau ini dibangun tahun 1928 oleh warga Kampung Tanah Sirah Kenagarian Sungai Batang dengan ukuran 6x8 meter. Dibangun oleh masyarakat untuk Buya HAMKA yaitu pada saat beliau pulang dari Mekkah. Pada waktu itu HAMKA masih berumur 18 tahun. Tujuan dibangunnya surau tersebut adalah untuk tempat mengajar mengaji Al-Qur’an anak-anak yang ada di nagari-nagari sekitar surau. Saat ini surau Buya HAMKA masih dimanfaatkan sebagai tempat mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak.

e. Atraksi Pagelaran Kesenian Tradisional
Di Maninjau terdapat banyak sanggar seni tradisional. Tiap-tiap nagari memiliki paling tidak satu buah sanggar seni tradisional. Sanggar seni tradisional yang terdapat di Maninjau berjumlah 71 buah sanggar seni. Kegiatan yang dilakukan di sanggar seni tradisional adalah mengajarkan dan mengembangkan seni tradisional seperti Randai, silat seni dan silat bela diri, musik dan tari-tarian tradisional, serta pengajaran pemahaman adat yang meliputi pasambahan, dan petatah petitih.


f. Upacara Perhelatan Perkawinan
Upacara pehelatan perkawinan di Maninjau menjadi sangat menarik karena masih kentalnya pengaruh adat dan budaya. Budaya baarak merupakan hal yang sangat menarik perhatian, tidak saja menarik perhatian para wisatawan tetapi juga masyarakat setempat.

Pada acara baarak, kedua penganten diarak keliling nagari dengan diiringi bunyi-bunyian yang merupakan alat kesenian anak nagari seperti: Tambua, Talempong, Gadabiak, dan Pupuik Batang Padi atau Tansa. Selain itu, ketika kedua penganten hampir sampai di rumah anak daro (penganten perempuan) maka akan disambut dengan Tari Galombang.


C. Objek Wisata Minat Khusus
Objek Wisata Minat Khusus adalah objek wisata yang dominan dikunjungi oleh mereka yang memiliki hobi bertualang dan suka akan tantangan. Adapun objek wisata minat khusus yang ada di Maninjau antara lain: Arung Jeram dan Paralayang.

a. Arung Jeram
Arung Jeram merupakan objek Wisata Minat Khusus yang banyak digemari oleh wisatawan mancanegara. Kegiatan Arung Jeram dilakukan di Batang Antokan karena arus Batang Antokan cukup deras sehingga sangat cocok untuk melakukan kegiatan Arung Jeram. Hanya saja dalam beberapa tahun belakangan ini kegiatan arung jeram sudah sangat jarang sekali diadakan. Melihat kondisi ini muncul dua anggapan mendasar. Anggapan pertama mungkin saja kegiatan arung jeram tidak dilaksanakan karena memang tidak ada peminat untuk melaksanakan kegiatan ini. Anggapan kedua mungkin kegiatan tersebut tidak dilaksanakan karena memang tidak adanya sarana dan prasarana untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kalau memang demikian maka sangat disayangkan potensi wisata yang cukup unik tersebut terabaikan begitu saja. Padahal bidang pariwisata merupakan salah satu lahan yang dapat memompa pendapatan daerah.

b. Paralayang
Geliat dunia paralayang Indonesia boleh dibilang tak bisa dilepaskan dari kiprah para pendaki gunung. Keinginan turun dengan cepat setelah puas melahap sejuta tanjakan dalam pendakian ternyata melahirkan bentuk petualangan lain. Tahun-tahun awal perkembangan paralayang di Indonesia memang didominasi oleh pendaki gunung. Itu sebabnya, pada awal kelahirannya di Indonesia, paralayang populer dengan sebutan terjun gunung. Pencetus paralayang di Indonesia adalah Gendon Subandon dan Dudi Arief Wahyudi dengan mendirikan kelompok terjun gunung di Yogyakarta pada Januari 1990.

Ajang Paralayang itu sudah tiga kali diselenggarakan oleh Pemda Kabupaten Agam sejak 2001. Acara tersebut menyatu dengan Festival Rakyat dan diselenggarakan selama tujuh hari berturut-turut. Jadi, setiap hari selama seminggu di Puncak Lawang dan di tepi Danau Maninjau berlangsung kegiatan pariwisata. Kegiatan Paralayang berawal dengan terjun dari Puncak Lawang dan akan mendarat di Maninjau. (Guwo: 02.05.2008)

KEMISKINAN ANTARA MASYARAKAT DAN PEMERINTAH





Oleh: Ana Fatda)

Makan ngak makan asal ngumpul 2x
Makan ngak makan 2x
Asal ngumpul


Bait diatas sangat familiar ditelinga kita, terlebih lagi slogan tersebut sangat lekat pada salah satu suku bangsa yang ada di negara kita. Bait tersebut mengisyaratkan bahwasannya kebersamaan lebih utama dari pada hanya untuk memikirkan soal makan atau hal-hal yang lain. Kebersamaan atau kekeluargaan merupakan segala-galanya, tidak ada yang berada lebih tinggi dari hal tersebut.

Lalu jika kita menelaah terhadap keadaan saat ini apakah hal tersebut masih berlaku? Pasti nya ada dua jawaban ya atau tidak. Tidak, berfikir secara logis saja mana mungkin seseorang saat ini rela mengorbankan dirinya tanpa ada sesuatu yang diharapkan, apa lagi jika itu terkait akan hal-hal yang bersifat kelangsungan hidup mereka. Ini bukan zaman dahulu kawan! Dimana segala sumber kebutuhan masih dapt diperoleh dengan mudah dan murah, sekarang sudah era individualis, yang berkuasa yang menang.

Ya,mungkin ini merupakan jawaban keterpaksaan yang akan terdengar. Mengapa demikian? Bayangkan saja kebutuhan untuk hidup saat ini biayanya sudah sangat tinggi. Sebentar-sebentar sudah terhembus kabar harga barang-barang terutama kebutuhan pokok melonjak naik. Membuat masyarakat harus berusaha keras untuk memutar otak bagaimana cara agar dapur tetap mengepul. Tetapi bagaimana akan memutar otak, jika energi yang dibutuhkan sebagai asupan untuk hal tersebut masih melayang-layang.

Kehidupan di negara ini semakin hari semakin susah, semakin hari semakin mengalami kemunduran. Kalangan bawah menjadi semakin miskin, sementara kalangan atas menjadi semakin kaya. Rakyat menjerit kelaparan, dewan menjerit dengan perdebatan yang berujung bentrokan.

Kesusahan rakyat telah menjadi sebuah “screen saver” bangsa ini. Setiap bulannya harga kebutuhan ada saja yang naik, sementara upah atau gaji masyarakat tidak naik Jika ada kenaikan upah atau gaji (baru sekedar pengumuman), harga-harga telah terlebih dahulu naik sama saja “stagnasi”, para petani pun bernasib yang sama. Ambil saja contohnya rencana kenaikan BBM, belum naik tetapi harga bahan kebutuhan pokok sudah melonjak tajam. Jika dibandingkan dengan kenaikan harga yang terjadi, pendapatan masyarakat sangat kecil atau tidak berbanding baik atau sangat kecil dengan harga-harga yang ada di pasaran.

Patutkah pemerintah disalahkan? Disatu sisi pemerintah saat ini hanya menjalanakan tugas dan kewajibannya, kenaikan harga merupakan suatu tuntutan yang tak dapat dielakkan. Jika tidak melakukan hal ini maka pendapatan negara dan belanja negara akan mengalami devisit, sedangkan biaya-biaya seperti gaji para pegawai, upah buruh, biaya pembangunan untuk daerah-daerah, pembayaran hutang luar negeri dan lain sebagainya harus ada dan mencukupi. Jika tidak dari hal ini apalagi yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Disatu sisi lagi jika kita menelaah kebelakang, mungkin kita bisa melihat akar permasalahan ini. Pemerintahan yang otoriter dan adanya monopoli dalam perdagangan yang dilakukan menjadikan kondisi kita seperti sekarang ini. Tidak adanya keterbukaan dan korupsi yang merajalela, menimbulkan hutang yang banyak dan itu semua harus ditanggung oleh rakyat dan pemerintah saat ini. Kebiasaan yang telah menjadi akar di dalam tubuh pemerintahan dahulu telah turun kepada pemerintah selanjutnya. Hal ini lah yang menjadikan masyarakat semakin susah, jatah raskin yang diturunkan untuk masyarakat miskin berangsur-angsur “disunat”, hingga sampai ketangan rakyat tidak sesuai dengan dana yang telah ditentukan, bahkan sering kali terjadi kecurangan orang yang berkecukupan malah mendapatkan jatah tersebut sementara rakyat miskin hanya bisa gigit jari dan membayangkan jatah mereka yang telah terbang kepada orang yang tidak tepat.

Jikalau pemerintah mau lebih tegas. menindak bahkan sangat tegas untuk menindak para pelaku kecurangan ini, bukan hanya dengan gertakan atau hukuman yang sebentar saja seperti yang terjadi pada saat ini, koruptor dalam penanganan kasusnya hanya terjadi tarik ulur sehingga mereka menganggap hal ini sudah biasa toh, mereka akan dibebaskan juga tanpa ada tindak hukum yang tegas. Keinginan pemerintah dan masyarakat akan negara yang adil, makmur, dan sejahtera bisa terwujud dan bukan merupakan suatu impian belaka.

18 Agustus 2008

Menilik Roh Gerakan Mahasiswa


Menilik Roh Gerakan Mahasiswa


Oleh: Melin

JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, saya sengaja mengawali tulisan ini degan meminjam istilah yang pernah diucapkan oleh Soekarno, mantan orang nomor satu di Indonesia (RI 1) sekaligus penguasa Orde Lama. Dalam bidang apa pun membaca dan mempelajari sejarah akan sangat membantu dalam mencari dan menentukan arah dan pedoman tindakan pada masa kini. Demikian juga halnya ketika menentukan arah gerakan mahasiswa pada saat ini.

Dalam perjalanan panjang sejarah pergerakan Indonesia, mahasiswa telah memperlihatkan andil dan kontrobusi nyatanya dalam pergerakan. Lahirnya pergerakan nasional Indonesia merupakan bukti nyata sumbangsih mahasiswa yang notabenenya adalah kaum terpelajar yang juga menjadi kaum elit menengah. Memang, pada awalnya gerakan yang muncul adalah gerakan yang lebih bersifat kedaerahan atau kelompok, dalam kesempatan ini saya istilahkan dengan gerakan individual atau gerakan kecil. Sebagaimana lazimnya gerakan kecil tentunya daya dobrak yang dihasilkan akan sesuai dengan pemicu gerakan itu sendiri. Namun demikian, walaupun daya dobrak dari gerakan kecil tersebut terlihat lemah, tetapi perannya tidak dapat diabaikan begitu saja. Gerakan-gerakan kecil itu adalah akar dari gerakan besar yang muncul dikemudian hari. Gerakan kecil itulah yang menjadi biang menyebarnya ide dan gagasan untuk mewujudkan sebuah gerakan yang pada masanya dikenal dengan gerakan nasional.

Hal lain yang sangat terkait dengan persoalan pergerakan nasional adalah pendidikan. Mengapa saya katakan demikian? Alasannya sederhana saja, yaitu karena pergerakan-pergerakan yang muncul pada tahap awal adalah buah dari pohon yang bernama pendidikan. Jadi tidak salah jika pendidikan diistilahkan dengan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Rahim pendidikan melahirkan anak yang bernama kaum terpelajar. Mereka ini memiliki fikiran yang kritis sehingga menjadi ujung lidah dari masyarakat. Secara perlahan mereka menjadi sebuah kekuatan yang mampu melancarkan aksi kolektif. Aksi kolektif itu, disadari ataupun tidak, telah membentuk identitas kolektif dan kemudian menentukan orientasi bersama. Puncaknya adalah lahirnya ikrar yang mereka wujudkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Saat itu, segala bentuk perbedaan tertepiskan. Tembok-tembok sosial pun seakan meleleh begitu saja. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Saat ini kita tentu bisa melihat sendiri pola gerakan mahasiswa. Ego kelompok dan golongan lebih mencuat daripada tujuan utama dari pergerakan. Makanya tidak aneh jika ditemui adanya bentrok antar mahasiswa, dan tidak adanya respon dari kawan-kawan mahasiswa yang lain terhadap pergerakan. Hanya satu ungkapan yang bisa saya tuliskan disini, bahwa pergerakan mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini adalah pergerakan tanpa roh.
*****
Padang, 13.08.’08

Ditengah Kemelut Kebudayaan Islam Ditantang


Judul Buku : Ditengah Kemelut Kebudayaan Islam Ditantang
Pengarang : Maryam Jameelah
Penterjemah : A.H. Fauzan & Edy Suryanto
Penerbit : Shalahuddin Press
Jumlah Halaman : 118 hlm


Resensi Oon Guwo


Pemikiran Islam dalam menghadapi budaya materialistik dan sekuler ala barat dapat ditemukan dalam buku ini. Islam memberikan pilihan kepada manusia untuk melepaskan diri dari belenggu batin dan penjara kehidupan yang berasal dari sisi negatif kebudayaan barat. Budaya barat dengan nyata telah menjajah budaya ketimuran yang dekat dengan Islam. Melalui tawaran kesenangan, kenikmatan, dan kemewahan sesaat budaya barat secara perlahan menggeser budaya timur. Bahkan sedikit demi sedikit budaya barat mempengaruhi pola pikir manusia, dalam hal ini masyarakat Islam, dengan pemikiran sekuler. Akibatnya yang muncul dalam umat Islam adalah insan-insan penganut budaya materialistik, sehingga nilai-nilai Islam mulai ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Dengan keadaan seperti itu peradaban Islam akan mengalami kemunduran, padahal iman bukanlah sekedar rangkaian ritual saja melainkan aspek yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim.

Dampak dari kemajuan teknologi, yang sangat disanjung dalam budaya barat, terhadap alam semesta menjadi pembahasan yang menarik dalam buku ini. Nyatanya, perkembanganteknologi yang berbasiskan barat telah mengakibatkan berbagai kerusakan alam dan lingkungan hidup, kerusakan moral manusia, dan menghilangkan tujuan hakiki penciptaan manusia yang sebenarnya memiliki identitas sebagai makhluk. Dengan berbagai dalih, tayangan teknologi televisi didominasi oleh tayangan kehidupan ala barat yang memperlihatkan kesenangan, kenikmatan, dan kemewahan, tetapi tanpa disadari telah menjadi penjara hidup manusia.

Maryam menjelaskan bahwa dalam pemikiran barat, alam adalah musuh yang harus ditaklukkan. Memang harus diakui bahwa peradaban barat tidak tertandingi oleh peradaban manapun dalam taraf perusak yang luar biasa terhadap alam. Hal itu sangat berbeda dengan pandangan Islam yang tidak memandang alam sebagai sesuatu yang profan. Alam adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dan dikelola secara bijaksana, karena manusia adalah khalifah bagi bumi. Kerusakan- kerusakan alam terjadi karena barat sangat memuja sains, dan hal itu yang tidak sesuai dengan pandangan Islam. Islam bukannya menolak pekembangan sains, tetapi Islam sengaja memberi batasan dengan tujuan agar manusia tidak menjadi budak dari temuan mereka sendiri. Akibatnya, karena pandangan itu, Islam dituduh menjadi penyebab lambatnya perkembangan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini banyak mengandung unsur perbandingan. Bahasa yang sederhana dicampur bahasa yang agak tinggi sehingga mungkin saja akan sedikit menyulitkan masyarakat umum untuk memahaminya. Sepertinya buku ini memang ditujukan sebagai bahan bacaan bagi kaum terpelajar dan para pengambil kebijakan.
Secara umum buku ini menawarkan pilihan kehidupan bagi pembacanya. Dua kutub yang berbeda, Islam dan Barat, sama-sama memiliki pemikiran terhadap kebudayaan manusia. Barat dengan tawaran budaya materialistik dan sekuler, sementara Islam dengan kaidah jiwa tauhid dan berupaya menjaga manusia tetap pada identitasnya sebagai makhluk yang berjalan dan berkembang untuk mencapai tujuan hakiki penciptaannya.

*****

IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL; Suatu Wawasan Islam


Judul Buku : IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL; Suatu Wawasan Islam
Pengarang : Ali Syariati
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit : 1989
Jumlah Halaman : 185 hlm


Resensi Donk Guwo


Ali Syariati adalah seorang pemikir muslim kontemporer yang terkemuka. Hal tersebut diungkapkan oleh Jalaluddin Rahmad dalam kata pengantarnya untuk buku ini. Dalam buku ini Ali syaruati menyerukan bahwa jangan pernh merasa puas dalam menimba ilmu. Ilmu haruslah dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga perjuangan para rasul dapat dilanjutkan. Hidupkan kesadaran diri masyarakat Islam untuk merubah dunia dengan bimbingan Islam.

Ali juga memaparkan bahwa bukan orang-orang timur yang belajar dari barat, tetapi orang-orang baratlah yang pada awalnya berguru ke timur karena timur memiliki pemahaman keyakinan dasar dan proses sejarah yang membentuk mereka. Sesuai dengan judul bukunya, Ideologi Kaum Intelektual, Ali menegaskan kembali peran agama sebagai ideologi, dalam pengertian sebagai keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respon pada kebutuhan dan masalah masyarakat yang terjadi. Agama sebagai ideologi bukanlah agama yang mempertahankan dan melegitimasikan status quo, tetapi agama yang memberikan arah kepada bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Buku ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing bagian berisi pandangan dan pemikiran Ali Syariati mengenai tata cara kehidupan bermasyarakat dan menerapkan ideologi agama, dalam hal ini Islam, sebagai sebuah tatanan hidup dalam masyarakat. Pemikiran-pemikiran Ali tersebut berdasarkan pada Al-Qur’an yang dikaitkan dengan realita kehidupan bangsa dengan tidak pula mengabaikan pemikiran, konsep, dan teori dari tokoh-tokoh barat.

Pada bagian pertama, dengan sub judul Kebudayaan dan Ideologi, Ali menjabarkan bagaimana sebuah kebudayaan berkembang menjadi sebuah peradaban. Kebudayaan dan peradaban dibangun oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Zorroaster, Budha, Conficius, Lao Tse, dan Nabi Muhammad. Satu-satunya fungsi mereka adalah menciptakan masyarakat baru dan gerakan-gerakan baru baik kepada para ilmuwan, seniman, filsuf, dan lainnya yang pada akhirnya memunculkan peradaban baru.

Kebudayaan dan peradaban barat telah mengambil bentuk-bentuk baru. Hanya saja, yang sangat disayangkan oleh Ali, adalah penerimaan kebudayaan barat yang tanpa filterisasi oleh bangsa-bangsa timur, sehingga yang terjadi adalah pembaratan bukannya asimilasi budaya dengan nilai positif. Padahal sebuah bangsa yang memiliki kesadaran identitas kebangsaan akan mampu melahirkan kebudayaan dan peradaban yang baru.

Ideologi dikaitkan juga oleh Ali dengan filsafat, walaupun sebenarnya ideologi hanya sedikit berkaitan dengan filsafat. Ideologi mempunyai tingkatan yaitu: bagaimana cara seseorang memahami dan menerima alam semesta dan manusia; bagaimana memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkungan sosial dan lingkungan mental, serta penyodoran usulan, metode, pendekatan, dan ide-ide yang akan dimanfaatkan untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan. Ideologi menuntut kaum intelektual untuk bersikap setia. Demikianlah yang dipaparkan Ali dalam bagian kedua bukunya.

Pada bagian ketiga, Ali mengupas mengenai peradaban dan modernisasi. Tidak semua kebudayaan dan peradaban dapat dijalankan karena disesuaikan dengan jiwa zaman. Pada bagian akhir bukunya, bagian empat, Ali membahas tentang kisah nestapa kaum tertindas. Bagian akhir tersebut merupakan pengalaman Ali sendiri. Walaupun besar perhatian Ali terhadap kaum lemah dan tertindas tetapi Ali tidak serta merta menyalahkan para pembesar (penguasa) yang lebih memikirkan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya di atas kepentingan rakyatnya.

*****

Bayarlah Upah Sebelum Keringatnya Mengering


Judul Buku : Bayarlah Upah Sebelum Keringatnya Mengering
Pengarang : Eggi Sudjana
Penerbit : PPMI
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2000
Jumlah Halaman : x + 87 hlm




Resensi Saek Guwo

Buku ini membahas mengenai nasib kaum buruh di Indonesia. Kaum buruh telah menjadi korban konspirasi yang sangat kejam. Satu per satu permasalahan seputar kaum buruh diungkapkan sehingga akar masalah perburuhan di Indonesia mulai terkuak. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini adalah pendekatan religius. Dengan pendekatan itulah penulis buku ini mencoba memberikan jawaban dengan wacana baru dan paradigma baru.
Persoalan perburuhan di Indonesia memiliki sifat yang kompleks dan tidak hanya berasal dari hubungan industrial saja melainkan juga berkaitan dengan politik perburuhan dan intervensi negara, termasuk di dalamnya militer. Hal tersebut, menurut Eggi, berkaitan dengan politik pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan, stabilitas, dan distribusi.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan penduduk yang terbesar di dunia, sebenarnya memiliki keuntungan dengan jumlah sumber daya manusia tersebut. Jumlah yang besar itu dapat menjadi potensi yang besar pula, tentunya apabila sumber daya manusia yang besar tersebut memiliki produktivitas dan kemampuan yang handal. Sebaliknya, jumlah yang besar tersebut hanya akan menjadi beban jika jumlah tersebut tidak memiliki nilai produktivitas apapun. Konsekuensi dari realitas seperti itu akan menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan, baik per kapita daerah maupun nasional. Kondisi itu terlihat pada tiga puluh tahun terakhir, Indonesia hanya mencapai tingkatan negara dengan income per kapita hanya mencapai lebih kurang US$ 1100.

Krisis ekonomi menambah runyamnya situasi ketenagakerjaan di Indonesia. Anjloknya nilai rupiah mengakibatkan merosotnya daya beli masyarakat dan macetnya produksi barang dan jasa. Dampaknya, terjadi PHK massal di Indonesia. Pengangguran mencapai jumlah puluhan juta jiwa, sehingga menambah beban perekonomian bangsa.
Buruknya strategi pembangunan dibidang ketenagakerjaan bukan sekedar kurangnya orientasi terhadap pemberdayaan buruh, melainkan berimbas kepada perencanaan substansialnya, mulai dari paradigma hingga perencanaan teknis yang tidak memperhitungkan seluruh elemen yang berkaitan dengan buruh, ketenagakerjaan, dan pembangunan nasional.

Nasib buruh lebih buruk lagi, terutama setelah munculnya gelombang krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. sejumlah pekerja mengalami pemotongan upah dan sejumlah besar lainnya telah mengalami PHK massal.
Secara umum, penyebab buruknya kondisi buruh di Indonesia adalah: pertama, lemahnya posisi tawar (bargaining power) tenaga kerja ketika berhadapan dengan pemilik perusahaan atau industri; kedua, tidak adanya organisasi pekerja yang cukup berbobot dan mempunyai kualifikasi, sebagai lembaga, untuk mewujudkan aspirasi dan kepentingan tenaga kerja; ketiga, kurang responsif dan akomodatifnya kebijakan pemerintah terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan perhatian yang penuh dan kesungguhan pemerintah. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hendaknya lebih berorientasi kepada kepentingan buruh, tentunya tanpa membuat pihak perusahaan tertekan pula. Selama ini yang terjadi adalah buruh menjadi objek untuk kepentingan politik pemerintah. Dalam bukunya ini, Eggi menawarkan solusi agar kebijakan pemerintah berisikan: pertama, kebijakan pemerintah bukan hanya sekedar instrumen tetapi merupakan akses; kedua, kebijakan pemerintah seharusnya mendorong kuantitatif dan mendidik kualitatif; ketiga, pemerintah merupakan sarana untuk membangun sistem (Undang-undang dan kebijakan).

*****